Minggu, 14 September 2014

PROBLEM PLURALISME AGAMA (KASUS PEMIKIRAN JHON HICK)


Oleh Mohammad Halim

PENDAHULUAN
Dalam wacana pluralisme agama Jhon Hick merupakan tokoh yang terbesar dan terpenting. Karena dialah yang paling banyak  menguras seluruh tenaga dan fikirannya untuk mengembangkan,  menjelaskan dan menginterpretasikan gagasan pluralisme agama secara massive,sehingga punya andil yang sangat besar dalam memperkenalkannya kepada masyarakat secara secara umum sehingga namanya menjadi lengket dengan wacana pluralisme agama[1].

Problem problem yang ada pada gagasan Hick, penulis susun dalam beberapa bab.pertama, problem (definisi  agama menurut Hick) ,kedua, problem (argumentasi pluralisme agama menurut Hick),ketiga, problem (teology global dalam konsep “The real” menurut Hick).
  Menurut Hick agama adalah respon manusia terhadap realitas Tuhan yang transenden yang lain daripada kita".[2] Artinya, aneka ragam agama merupakan berbagai aliran pengalaman keagamaan yang berbeda ,ini jelas jadi problem bagi islam, yang tidak ragu lagi bahwa agama ini adalah wahyu. Diatas definisi inilah dibangun gagasan pluralisme agama.
Menurut Hick pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama-agama besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang, dan secara bertepatan merupakan respon yang beragam  terhadap Yang Real dan Yang Maha Agung dari dalam pranata kultural manusia yang bervariasi; dan bahwa transformasi wujud manusia dari pemusatan diri menuju pemusatan Hakiki terjadi secara nyata dalam setiap masing-masing pranata kultural manusia tersebut – dan terjadi, sejauh yang dapat diamati, sampai pada batas yang sama.[3] Berdasarkan defenisi di atas sangatlah jelas bahwa tidak ada perbedaan yang esensial dan fundamental diantara agama-agama dunia.
 Argumentasi pluralisme agama menurut Hick bisa ditinjau dari berbagai aspek,diantaranya aspek teologis,aspek sosiologis,aspek psikologis .Secara teologis Hick mencari justifikasi dari seorang sufi kenamaan Jalaluddin Rumi yang berkata dalam satu bait syirnya,”The light is no different,(though)the lamp has become different”(lampunya berbeda beda tetapi cahanya tetap sama)[4]ini jelas sebuah kutipan yang memberikan kesan berbeda dari maksud sesungguhnya,karena difahami secara parsial.dalam bab selanjutnya akan kita jelaskan pengertian secara komperhensif.
Secara siologis Hick mengemukakan gagasan fortuity of birth,yang mengasumsikan bahwa manusia beragama sesuai masyarakat dimana ia dilahirkan[5],lalu apakah manusia disalahkan hanya karena memeluk agama masyarakatnya ,bukankah tidak ada manusia yang mengetahui dimana dan kapan ia akan dilahirkan,ini adalah logika hick yang menjadi problem yang juga harus dikritisi. 
Hick menganggap bahwa kebanyakan manusia masih terkungkung dengan ”teologi ptolemaik”yaitu bahwa pengikut agama agama menganggap bahwa agama masing masing merupakan pusat dunia agama agama dan bahwa agama agama berevolusi dan berotasi mengelilinginya.dengan ditemukannya revolusi Copernikan dalam astronomi maka harus pula diikuti pula dengan ”revolusi teologis”terhadap dikhotomi dunia agama,yakni agama saya benar dan agama orang lain salah,oleh karena itu Hick menganjurkan keharusan ”transformasi orientasi dari pemusatan agama menuju pemusatan tuhan.[6]
Tampaknya visi baru inilah yang menurut hick akan banyak menolong manusia modern dalam mencari solusi solusi,yang tidak saja realistis,obyektif,rasional,tapi lebih dari itu semua, bisa diaplikasikan dan sekaligus mengesankan[7]dalam membangun  kehidupan bersama yang penuh kedamaian ,kesetaraan,toleransi timbale balik diantara tradisi agama dan budaya budaya yang amat  beragam dan saling bertentangan.
Diatas alasan alasan inilah selanjutnya Hick membangun teology globalnya dengan konsep “The real “,yang menimbulkan problem bagi semua agama karena Hick menggunakan justifikasi dari agama agama besar dunia yang ia fahami secara parsial,sehingga menimbulkan kesimpulan yang salah pula.
Tulisan ini berusaha mengungkap problem yang ditimbulkan oleh gagasan Hick dan sekaligus jawabannya dari perspektif islam.  untuk memberi  jawaban yang kongkrit dan  tegas kepada gagasan gagasan yang juga tidak bebas nilai, karena berangkat dari worldvew barat yang ateis. Secara singkat dapat kita simpulkan bahwa gagasan gagasan Jhon Hick penuh dengan problem,hanya karena adanya globalisasi dalam segala bidang dan besarnya usaha barat yang liberal dan sekular untuk menjadi dominan dan hegemonic bahkan dalam hal pemikiran dan dan teologi keagamaan.[8] Seakan menjadi suatu yang sudah diterima oleh masyarakat secara umum.
PROBLEM (DEFINISI AGAMA MENURUT JHON HICK)
            Dalam banyak karya tulisnya, Jhon Harwood Hick, lebih sering  menggunakan kata religion Dalam banyak karya tulisnya, John Harwood Hick, lebih sering  menggunakan kata [9] yang artinya agama dari bahasa Sansakerta yang telah masuk menjadi kata Bahasa Indonesia.[10] Penggunaan istilah 'religion" oleh Hick, nampak terpengaruh lingkungan dimana ia berkembang ,seperti juga  agama yang dipeluknya
Muncul pertanyaan kemudian, apakah kata "religion atau religie" terdapat dalam kitab suci agama di Barat sebagaimana kata "al-din" termaktub dalam kitab suci agama Islam?. Ketika suatu istilah dipersoalkan bararti ada pemaknaan yang krusial baik secara etemologi maupun secara terminologi. Menurut al-Attas, istilah bahasa Arab yang tepat untuk kata 'religion' sebagaimana dipahami di Barat dan Timur adalah millah dan bukan al-din, karena kata al-din kaya akan pengertian tidak dibatasi dengan istilah religion atau agama saja.[11]
             Dari pergumulan spiritual , Hick mengulang kembali kata-kata Claude di Jewish Quarterly Review tahun 1895, sebagai pengantar dalam memberikan kuliah tahunan yang ke 27 mengenang Claude Goldsmid Montefiore, di depan umat Yahudi di Sinagog, "Banyak jalan menuju Tuhan, dan dunia ini telah sangat kaya dengan berbagai jalan tersebut, sesuatu yang bukan hal baru lagi."[12] Pernyataan radikal ini yang dikutip oleh Hick tidak terlepas dari pengaruh ajaran tentang kesatuan asasi dari agama-agama besar, yang merupakan suara agama Hindu.[13]
Menurutnya Hick, religion adalah "respon manusia terhadap realitas Tuhan yang transenden yang lain daripada kita".[14] Artinya, aneka ragam agama merupakan berbagai aliran pengalaman keagamaan yang berbeda di mana masing-masing bermula pada episode yang berbeda dalam sejarah manusia yang kemudian memekarkan kesadaran logis di dalam sebuah ruang kebudayaaan.[15]
Berdasarkan defenisi di atas sangatlah jelas bahwa tidak ada perbedaan yang esensial dan fundamental diantara agama-agama dunia. Oleh sebab itu, John Hick kemudian menyimpulkan semua tradisi atau agama yang ada di dunia ini adalah sama validnya, karena pada hakekatnya semuanya itu tidak lain hanyalah merupakan bentuk-bentuk respon manusia yang berbeda terhadap sebuah realitas trasenden yang satu dan sama. Dengan demikian, semuanya merupakan “authentic manifestations of the real”. Ringkasnya, semua agama secara relatif adalah sama, dan tidak ada satu pun agama yang berhak mengklaim “uniqueness of truth and salvation” (sebagai satu-satunya kebenaran atau satu-satunya jalan menuju keselamatan).[16]
Pengertian seperti itu tentu bertentangan dengan islam,diantara yang menjadi bukti adalah  fi’lal-Rasul yang telah menjadi fakta histories, ternyata beliau melakukan dakwah kepada pemeluk agama-agama lain selain Islam, tentunya tanpa sedikitpun dicampuri unsur pemaksaan. Andaikan  pluralisme agama itu betul tentunya Nabi Muhammad tidak akan susah-susah melakukan dakwah kepada pemeluk agama selain Islam. Nabi Muhammad juga akan menjadi orang pertama yang mendakwahkan bahwa semua agama adalah benar dan pemeluknya masuk surga[17]
Apa yang diungkapkan Hick tentang agama jelas berbeda dengan konsep al-din     dalam islam karena  konsep al- din  menurut islam diwahyukan Tuhan secara tanzil berbeda dengan konsep religion yang bersumber pada social budaya manusia. Al-din secara terminology berarti, al-Jaza' wa al-Mukafaah (pahala), al-Qadla'(ketentuan), al-Malik/ al-Muluk wa al-Sulthan (kekuasaan), aTadbir (pengelolaan); al-Hisab (perhitungan).[18] Berdasarkan ayat-ayat al-Qur'an, KH. Moer nawar Cholil, mencatat arti al-din yang berakar dari kata kerja "daana-yadienu-" sebanyak sepuluh makna[19]; diantaranya, al-tha'ah (kepatuhan), menunggalkan ketuhanan, nasehat dan cara atau adat kebiasaan.
          Kita ambil satu makna al-din yang mencakup keseluruhannya, adalah al-tha'ah, kepatuhan. Dengan arti ini, kata al-din memiliki dua sisi yang berlawanan, satu sisi yang bersifat positif dan sisi lain bersifat negatif.[20] Sebab sebagai disebutkan dalam beberapa kasus makna secara terminologi, al-din berarti kekuasaan yang menggunakan kekuatan superiornya untuk menundukkan pihak lain, maka dari sisi positifnya berarti bermakna menekan. Pada sisi lain, pihak lain secara negative bermakna menyerah, patuh dan tunduk kepada yang berkuasa, atau pihak lain berlindung di bawah kekuasaannya. Hal ini nampak jelas dalam surah Yusuf, ayat 76 dengan istilah " fi dienil malik"[21], para sahabat memaknai istilah dengan "fi sulthaanil malik, fi hukmil malik dan fi qadhail malik"[22] istilah itu artinya adalah "menurut undang-undang raja"
          Dengan demikian, konsep al-din dari keterangan tersebut mencakup " al-Tha'ah "( kepatuhan) dan "al-Sulthaan"(kekuasaan) Apabila konsep ini dipadukan dengan surah XVI ayat 52,[23] berarti " kepatuhan yang sungguh-sungguh" dan "pemerintahan mutlak"  Dalam ayat ini tergambar suatu keharusan yang tak dapat ditawar "kepatuhan yang sungguh-sungguh" itu harus datang dari makhluk, termasuk manusia, dan pemerintahan muthlak itu  milik  Tuhan Allah  Satu Yang Abadi. Selanjutnya, makna "kepatuhan yang sungguh-sungguh" dari al-din ini dipertemukan dengan surat X, ayat 104[24], yang terdapat kata "’abada", kata al-din akhirnya dapat didifinisikan " menyembah Allah" dalam pengertian "mengabdi kepada-Nya sebagai hamba yang hina yang mematuhi sayyidnya.[25]
Singkatnya definisi al-din terdiri dari keyakinan (iman) sebagai kepatuhan batin dan perbuatan (amal) sebagai kepatuhan lahir yang secara teoritis  al-din mengajarkan konsepsi ketuhanan dan seperangkat aturan praktis yang mengatur aspek ritualnya atau submissionnya, demikian menurut Dr. Muhammad Abdullah Darraz[26] dan Prof. Dr. SMN. Al-Attas.[27]
PROBLEM( ARGUMENTASI PLURALISME AGAMA MENURUT JHON HICK)
A.     Aspek teologis jhon hick
Dalam kaitannya dengan aspek teologis ini Hick mengemukakan(saat menyampaikan kuliah pada Institute for Islamic Culture and Thought, Tehran, February20050)[28] kata kata hikmah dari seorang sufi kenamaan,Jalaluddin Rumi yang berkata dalam salah satu bait syairnya yang  ditulis dalam Al-Matsnawi menurut terjemahan R.A Nicholson yang juga dirujuk oleh Hick: “The light is no different,(though)the lamp has become different”(cahaya tidaklah berbeda,meskipun lampunya berbeda).[29]Kemudian bait ini diadaptasi oleh Hick secara bebas dan out of context menjadi “The lamps are different,but the light is the same(lampunya berbeda beda tetapi cahayanya tetap sama.)
Ini dari satu sisi,darisisilain ,ucapan Maulana Al-Rumi tersebut yang dinikil hick secara interpolatf(muharraf),meskipun nampaknya tidak mengganggu ma’nanya,adalah terputus dari konteksnya(Out of cotext),seperti yang telah dibuktikan dimuka.Maka jika ucapan tersebut diletakkan pada konteksnya yang sempurna maka artinya akan jelas bahwa sama sekali tidak akan dapat menjustifikasi pluralism Hick yang reduksionistik itu,Sebab setelah ucapan itu Al-Rumi berkata “ From the place(object) of vew O( thou who art the) kernel of existence,there arises the different between the true believer and the Zoroastrian and theJew( dari pemandangan yang obyektif ,wahai yang maha wujud lahirlah perbedaan antara yang beriman dengan Zoroasrian dan yahudi.[30] Disamping itu sikap Al-Rumi terhadap pluralism agama semakin jelas dan tegas ketika menjawab seorang lawan bicaranya yang beragama kristen ,yaitu Al-Jarrah,yang beralasan bahwa kekristenannya ini disebabkan karena orang tuanya beragama Kristen,Al-Rumi menjawab ” That is not the action or the word of intelligent man possessed of sound senses ,God gave an intelligence of your own other than your father’s intelligence, a sight of your own rather than your father’s sight, a discrimination of your own. Whay do you nullifay your sight and your intelligence,following an intelligence which will destroy you and not guide you.[31] Itu bukanlah tindakan atau ucapan orang yang cerdik yang memiliki perasaan sehat .Tuhan memberimu akal yang sesuai untukmu  sendiri dan yang berbed dengan akal ayahmu, sutu penglihatan yang sesuai untukmu dan yang berbeda dengan penglihatan ayahmu,kenapa kamu menyia nyiakan akal dan penglihatanmu,sementara kamu mengikuti akal yang akan merusakmu dan menyesatkanmu.
Selanjutnya Al-Rumi menjelaskan “Tentu saja benar bahwa ia harus mengatakan bahwa Tuhannya Isa a.s telah memulyakannya denga membawanya dekat denganNya,sehingga siapa saja yang melayaninya berarti melayani tuhan ,dan siapa saja yang mentaatinya beraarti mentaati tuhan,akan tetapi selama Tuhan telah mengutus seorang nabi yang lebih utama daripada Isa,dengan menampakkan kekuasaanNya di tangannya seperti bahkan lebih dari pada,yang ditampakka-Nya lewat tangan Isa, maka hal ini memaksanya untuk mengikuti nabi itu karena demi Tuhan,dan bukan demi nabi itu sendiri.[32]
B.     Aspek sosiologis
Secara siologis Hick mengemukakan gagasan fortuity of birth(ketidak sengajaan kelahiran),yang mengasumsikan bahwa manusia beragama sesuai masyarakat dimana ia dilahirkan[33],lalu apakah manusia disalahkan hanya karena memeluk agama masyarakatnya ,bukankah tidak ada manusia yang mengetahui dimana dan kapan ia akan dilahirkan.Bahwa seseorang lahir dari kedua orang tua yang beragama islam ata Kristen atau yahudi ayau hindu atau budha ata kebatinan atau komunis atau ateis dn sebagainya ,itu semata mata factor kebetulan yang murni. Oleh karena itu dapat dikatakan jati diri keagamaan seseorang secara umum sangat ditentukan oleh lingkungan dimana ia dilahirkan.Misalnya seseorang dilahirkan di India hampir dapat dipastikan akan beragama hindu,yang dilahirkan di Arab Saudi akan beragama islam,yang dilahirkan di Roma akan beragama katolik,dan seterusnya.Realitas ini Imerupakan fenomena universal,dan dari sinilah Hick menyatakan “Teologi agama apapun yang kredibel,haruslah benar benar mempertimbangkan factor lingkungan(situasi dan kondisi)[34].
Oleh karena itu Hick mengemukakan gagasan pluralisme agama yang berdasar pada teologi global. Dalam Hal ini islam jelas menolak gagasan Hick,sebagaimana yang dikatakan Al-Rumi kepada Al-Jarrah,yang beralasan bahwa kekristenannya ini disebabkan karena orang tuanya beragama Kristen,Al-Rumi menjawab ”Itu bukanlah tindakan atau ucapan orang yang cerdik yang memiliki perasaan sehat .Tuhan memberimu akal yang sesuai untukmu  sendiri dan yang berbed dengan akal ayahmu, sutu penglihatan yang sesuai untukmu dan yang berbeda dengan penglihatan ayahmu,kenapa kamu menyia nyiakan akal dan penglihatanmu,sementara kamu mengikuti akal yang akan merusakmu dan menyesatkanmu.
Islam menghendaki bahwa manusia menggunakan akal yang dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk,antara yang hak dg yang batil.sebagaina yang terjadi pada kisah Salman Al-Farisi yang rela meninggalkan istananya mencari kebenaran,beliau tidak lantas tinggal diam terhadap keadaan yang tidak sesuai dengan batinnya. Beliau menggunakan telinga untuk mendengar kebaikan,menggunakan mata untuk melihat kebaikan,menggunakan kaki untuk mencari kebaiakan,menggunakan akal untuk untuk memmbedakan antara yang hak dengan yang batil.Kalaulah manusia zaman postmodern ini mau menggunakan potensi akalnya untuk mencari pembuktian tentang kebenaran sutu agama dingan jiwa ayng tulus,pasti akan mendaptkan islam sebagai satu satunya agama yang hak,yang datang dari pencipta alam semesta.kebenaran itu bisa ditinjau dari otentitas kitab sucinya,konsep ketuhanannya,keadilannya dalam memandang kedudukan manusia,konsep akhlaqnya,keseimbangannya dalam memandang kehidupan dunia dan kehidupan sesudah mati,Dari poin poin diatas kalau dibandingkan dengan semua agama yang lain pasti manusia berakal akan berkesimpulan,islamlah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, islamlah gama yang diturunkan oleh tuhan  alam semesta. Adapun usulan Hick tentang agama baru yang bernama pluralisme agama yang dibangun diatas dasar teologi global adalah agama bikinan manusia yang tidak dapat menjamin keselamatan baik di dunia apalagi di akherat.

PROBLEM KONSEP “THE REAL” DALAM GLOBAL TEOLOGI
Selain argument argument yang telah disebutkan diatas sebagai landasan bagi berpijaknya gagasan pluralisme agama yang ia usulkan,  Hick juga melontarkan gagasan the transformation from religio-centredness to God-centredness (transformasi dari pemu satan agama menuju pemusatan Tuhan) Sejatinya tesis merupakan hasil dari penafisran Hick melalui model Copernican Revolution,[35] yang menemukan "sentralitas matahari" dalam galaksi kita sebagai ganti planit bumi yang dahulu, apa yang disebut Ptolemaic astronomy[36]. Gagasan ini terdiri dari pokok bahasan yang saling berkait, yakni konsep agama dan konsep Tuhan. Lalu ia mengembangkan kedua konsep dengan menggunakan "revolusi Smithian" yang dikombinasi dengan "revolusi Kantian", kemudian menafsirkan hubungan antar kedua konsep ini berdasarkan model revolusi Copernican"[37]
        Frase yang digunakan Hick untuk menjelaskan gagasan ini adalah "the transformation from self-centredness to Reality-centredness, transformasi dari pemusatan diri menuju pemusatan Realitas". Perlu dicatat bahwa Hick mengikuti "kacamata Smithian" yang digunakannya untuk melihat fenomena agama, dengan kejeliannya, ia menggunakan kata "self" sebagai peng ganti "religion" .Sebagaimana dikatakan Smith
          Dalam bukunya yang lain, Hick menamakan proses trans formasi dari diri menuju Realitas dengan istilah self-transcendence, transendensi diri radikal dalam berbagai bentuknya.[38] Artinya secara praksis, proses transformasi ini terjadi pada diri semua manusia secara sama dan seragam, tidak ada perbedaan yang prinsipil antara yang satu dengan yang lain dalam berbagai konteks keagamaan. Persaman tersebut mulai dari respons yang negative, tertutup dan eksklusif, sampai respons yang positif, terbuka terhadap eksistensi ketuhanan yang dapat menggeser dan menaikkan derajat dan level spiritual seseorang sedikit demiki sedikit dan secara gradual menuju eksistensi ketuhanan tersebut.[39] Dengan demikian suatu keharusan lahir nya "revolusi teologis" terhadap dikhotomi dunia agama, artinya tidak relevan lagi mempersoalkan salah benar terhadap agama-agama.
                    Pandangan ini tentu tidak dapat menjadi agama dunia, tapi ia dapat menjadi pendekatan terhadap teologi dunia. Sebab jika kesadaran tentang Realitas Transenden yang kita sebut "Allah" tidak terbatas pada tradisi Kristen, kemungkinan terbuka untuk apa yang dapat kita sebut teologi global. Secara analogis, teologi global akan terdiri dari teori-teori atau hipotesis-hipotesis yang dirancang untuk menginterpretasikan pengalaman religius umat manusia ketika terjadi tidak hanya di dalam agama Kristen tetapi juga di dalam aliran-aliran besar lain dalam khidupan agama, terutama tradisi-tradisi non-Teistik,[40] dan juga di dalam keyakinan non-religius yang besar.[41]

Kemudian, bagaimana Hick membangun Global Theology- nya tentang konsep Tuhan yang merupakan doktrin pokok agama-agama besar dunia ? Dalam problema wahyu, Hick sebagai mana dijelaskan di atas menggunakan epistemologi Thomas Aquinas ‘(Things known are in the knower according to the mode of the knower’ )dan dalam problema konsep Tuhan, Hick mengikuti epistemology Kantian.[42] Sebelum melacak tesis teologi global dengan  epistemologi Kantian, Hick memberi illustrasi tentang kehidupan religius dalam tradisi-tradisi dari semua agama. 
          Kita adalah sekelompok orang yang berbaris menuruni satu lembah yang panjang, menyanyikan lagu kita sendiri, me- melihara semboyan dan cerita kita sendiri selama berabad-abad, tidak peduli bahwa di balik bukit ada lembah lain dengan seke- lompok orang agung lainnya yang berbaris dengan tujuan yang sama tetapi telah berabad-abad mengembangkan gagasan, ce- rita, nyanyian dan bahasa mereka sendiri; dan di balik bukit yang lain walapun ada sekelompok barisan lainnya masing-ma sing tidak mengetahui tentang keberadaan yang lain. Kini me- reka semua muncul di dataran yang sama, dataran yang dicip takan oleh komunikasi global modern sehingga bisa melihat sa tu sama lain serta ingin tahu apa yang sama-sama dilakukan.[43]
        Pada tataran ini kita memperoleh informasi bahwa di dunia banyak agama; Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, Tao dan Konfusius, yang sama-sama punya pengalaman ke-Ilahi-an dalam perbedaan.
          Ketika kita mengunjungi berbagai tempat ibadat, kita akan menemukan para pemeluk agama datang ke tempat ibadat ma sing-masing untuk membuka pikiran mereka terhadap Realitas yang lebih tinggi, yang dipikirkan sebagai pencipta dan Raja alam semesta, dan sebagai pencipta moral yang sangat diperlukan dalam kehidupan tiap laki-laki dan wanita. Tentu saja pelaksanaaannya berbeda-beda. Yang lebih penting, wujud tertinggi dikenal sebagai Tuhan di Gereja Kristen, sebagai Adonai (Yahweh) di Sinagog Yahudi, sebagai Allah di Masjid orang Islam, sebagai Ekoamkar di Gurdwara Sikh, sebagaai Rama atau Krishna di Kuil Hindu. Tetapi ada satu pengertian penting dimana apa yang sedang dilaksanakan dalam beberapa bentuk pemujaan pada dasarnya sama.[44]
            Pada dasarnya sama, dalam artian bahwa ada kesamaan fenomenologis dari pemujaan dalam tradisi yang berbeda-beda ini, kita harus menanyakan apakah orang-orang di Gereja, di Sinagog, di Masjid, di Gurdwara, dan Kuil sedang memuja Allah yang berbeda atau sedang memuja Allah sama ?[45] Apakah Adonai dan Allah, Allah dan Ekoamkar, Rama dan Khrishna adalah tu -han -tuhan yang berbeda, atau apakah nama-nama yang berbeda ini untuk Wujud terakhir yang sama ?. Untuk menjawab ini, Hick menggunakan epistemology Kantian. Bagaimana sejatinya epistemologi Kantian diaplikasikan oleh Hick relasinya dengan konsep Tuhan., Dalam hal ini, Hick mengikuti Kant yang membedakan antara "noumenon ( thing an sich, atau thing as it in itself, yakni sesuatu sebagimana adanya) dan phenomenon (thing as experiented by human being, yakni sesuatu sebagaimana yang dialami oleh manusia). Hick kemudian mengaplikasi perbedaan ini pada konsep "Tuhan" walaupun Kant sendiri tidak berminat melakukannya karena akal manusia terbatas.[46] Namun menjadi keyakinan kuat bagi Hick untuk membangun teori pluralisme agama-nya di atas pijakan epistemology Kant ini. Maka untuk menghindari problem linguistic gender dan tetap menjaga netralitas, serta untuk mengakomodasi kedua konsep Zat yang paling Agung (personal dan impersonal)[47],Hick memilih terminology The Real (zat yang Nyata)[48] Kemudian ia bedakan antara "the Real an sich" atau "the noumenal Real") Zat Yang Nyata sebagaimana adanya) dan "the phenomenal Real" ( Zay Yang Nyata sebagai mana yang tampak oleh manusia melalui kaca mata tradisi dan agama yang berbeda-beda). Dalam buku "God Has Many Name", Hick menggunakan istilah " The Eternal One" ( Satu Yang Abadi).[49] Kita dapat membedakan antara nomena (noumenon) Tuhan Yang Tunggal, yakni Satu Yang Abadi dalam kediriannya yang melebihi lingkup bahasa dan pikiran manusia di satu sisi dan pada sisi lain pluralitas fenomena (phenomena) Tuhan, personal Tuhan dari agama-agama Teistek dan peng-kontret-an konsep absolute dalam agama-agama non-teistek. Jadi konsep Tuhan dalam paham pluralisme agama adalah The Real an sich tanpa nama yang bersifat absolute dan tunggal sebagaimana adanya. Adapun konsep Tuhan dalam agama-agama dunia selama berabad-abad disembah itu adalah The phenomena Real adalah Tuhan-tuhan yang dikonsepsikan dan diekspresikan oleh budaya manusia itu plural, jumlahnya banyak dan bersifat relatif. Meminjam istilah Paul F Knitter dalam No Other Name ? A Critical Survey of Christian Attitudes towards the World Religion, (1985), bahwa all religions are relative (semua agama sebagai jalan menuju Tuhan adalah relative) tetapi sekaligus all are es sentially same ( semua secara essensi sama).[50]Artinya, manusia sampai saat ini menyembah Tuhan yang tercipta oleh kesadaran kognitif para tokoh agung itu sendiri, dan begitulah kemusyrikan yang tak terbayangkan itu terus berlanjut sampai hari ini. Lalu bagaimana dengan konsep Tuhan dalam agama Islam, apakah  merupakan konsepsi Nabi Muhammad saw ?

Konsep Tuhan Dalam Islam
Mencari Tuhan selain Allah adalah palsu, demikian nasihat sufistik Syeikh Abdul Qadir al-Jailani.[51] Kata "Allah" sedemikian dalam faham Tawhid  Mu'tazilah[52]  merupakan Zat  Yang Esa dengan nafy al-shifat pada zat-Nya, Apakah nama Allah itu hasil tanggapan kesadaran kognitif Wasil bin Atha'(81-131 H), Abu al-Huzail al-'Allaf (135-235 H), Abu al-Husain ibn Abi 'Amr al-Khayyat (wa. 300), atau dalam faham asy'ariyah, Abu al-Hasan 'Ali ibn Isma'il al-'Asy'ari(260-330), Abu Bakr al-Ba qillani, Abd al-Malik al-Juwaini(417-478H), Imam al-Ghazali(1058-1111M) atau  faylusuf muslim antara lain; al-Kindi (185 H/801 M), Al-Ra zi(251-313H/865-925 M), al-Farabi (257-337H/870-950 M),[53]  terhadap Tuhan "The Real an sich atau The Eternal One an sich " sebagai disinggung dalam ide teologi global John Hick di atas?
          Apa yang diketahui oleh akal tentang Tuhan tidaklah sejelas apa yang diketahui melalui Tanzil.[54]Berbagai agama mucul karena perbedaan faham, menurut Hick, dalam menanggapi dan merespon Satu Yang Abadi, dan bersamaan dengan itu timbul konflik antar umat beragama, maka jalan keluarnya John Hick mengusulkan ide pluralisme agama yang terbungkus di dalamnya Ide Teologi global. Kemampuan akal itu sangat terbatas. Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi untuk mengoreksi yang salah dan menjelaskan  yang benar. Oleh karena itu, pengetahuan tentang Tuhan dalam konsep para teolog dan faylusuf muslim bukan hasil olah otak mereka namun melalui tanzil, wahyu seperti dalam firman berikut ini :

 يموسي إنى ربك فاخلع نعليك إنك بالواد المقدس طوي و انا اخترتك  فاستمع لما يوحى إننى أنا الله لآ إله إلآ أنا فاعبدنى وأقم الصلوة لذكرى (20: 12-14)

           Dalam surah pada ayat yang tergaris dibawahnya, Tuhan swt memperkenalkan diri Zat-Nya dengan nama "Allah"yang wajib disembah dan jangan mencari sesembahan lain selain Dia. Para teolog dan faylusuf muslim tersebut di atas hanya menjelaskan apa yang sudah diwahyukan kepada nabi-nabi dan rasul-ra sul Allah swt bukan hasil tanggapan kesadaran religius mereka tatkala membuka hati mereka bukan membuka pikiran seperti apa yang diistilahkan oleh John  Hick. Dengan demikian para teolog dan faylusuf dalam Islam tidak mencari konsep Tuhan baru sebagai yang dilakukan pikiran liar John .Firman Allah swt.

أ تجادلوننى في أسمآء سميتموهآ أنتم و أبآؤكم ما نزل الله بها من سلطان (الآعرف : 71)[55]
ما تعبدون من دونه إلا أسمآء سميتموهآ أنتم و أبآؤكم ما أنزل الله بها من سلطان إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه ذلك الدين القيم و لكن أكثر الناس لا يعلمون (يوسف :40)[56]
إن هي إلا أسمآء سميتموهآ أنتم و أبآؤكم ما أنزل اللله بها من سلطان, إن يتبعون إلا الظن و ما تهوي الآنفس , و لقد جآءهم من ربهم الهدي (ألنجم :23)[57]

Berdasarkan ayat 19-20 dari surah an-Najm,nama-nama berhala yang disembah oleh musyrikun Makkah adalah al-Lat, al-'Uzza dan al-Manat dalam agama paganisme dan  agama budaya seperti yang didefinisikan oleh John Hick.  Tuhan itu punya banyak na ma, menurut istilah Hick ,tidak punya sandaran yang valid kecuali warisan dari nenek moyang yang batil dan bukan berdasar kan petunjuk dari Allah, justru petunjuk yang dibawa oleh  para nabi dan rasul ditolak.[58] Maka menurut pengertian dalam ayat 40 dari surah Yusuf itu, manusia diperintahkan menyembah Allah semata bukan kepada lainnya." Demikianlah, karena sesungguhnya Allah ,Dialah Tuhan yang sebenarnya dan apa yang mereka seru selain Allah adalah batil. Dan Sesungguhnya Allah Mahatinggi, Mahabesar".[59]
        Allah, dalam pandangan Abdul Ahad Dawud(nama Islam), mantan pastor Katolik Roma itu, adalah nama kuno dalam bahasa semit untuk menyebut Zat Yang Nyata dan Zat Yang Mahatinggi atau Satu Yang Abadi (The Real, The Ultimate dan The Eternal One, dalam istilah Hick) yang menurukan wahyu dan  berbicara kepada Adam dan semua nabi. Pendapat Romo ini secara tegas menolak akal liar John Hick, bahwa Tuhan tidak bicara dan tidak pernah berbicara dengan manusia terbantah kan. Siapakah Allah itu ? Abdul Ahad Dawud persis seperti para teolog dan faylusup muslim yang disebut di atas, Allah itu adalah satu-satunya Zat Yang Ada, Maha Mengetahui, dan Maha Perkasa. Dialah sumber kehi dupan, pengetahuan dan kekuatan. Allah adalah Pencipta, Pengatur dan Penguasa jagat raya. Dialah Yang Maha Esa, Hakikat dan Zat Allah tidak akan bisa dipahami manusia dan karena itu usaha apapun untuk mendefinisikan hakikat-Nya bukan hanya akan sia-sia melainkan juga berbahaya bagi kesehatan jiwa dan imannya karena hanya akan membawa pada kesesatan.[60]
         Dengan hadirnya Romo David Benjamin Keldani[61] yang lahir dalam lingkungan Kristen dan Margaret Marcus dari keluarga Yahudi, Marmaduke Pckthal, Muhammad Asad, T.B. Irving dan lain[62], telah mendapat Hidayah Allah, mereka kembali ke teori "Ikrar Primordial"nya Fazlur Rahman[63] dan Perjanjian dalam istilah al-Attas[64] dan Ahmad Bahjat[65] Mereka itu berislam dan secara implicit menjawab fortuity of birth  yang menjadi landasan teori pluralisme agama John hick. Artinya kesejatian keagamaan manusia merupakan kencederungan awal sejak dalam kandungan ibunya bukan factor lingkunganya.
"Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas jiwa mereka (seraya berfirman); "Bukankah Aku ini Tuhan kali an?" Mereka menjawab :" Benar, kami bersaksi bahwa Engkau Ya Allah Tuhan kami".[66]Ikrar Primordial ini menjadi bekal manusia pertama dan utama dibawa lahir ke dunia sebagai fitrah beragama. Pertanyaannya kemudian bolehkah kita sebagai anak berbeda dengan orang tua dalam masalah ushuliyah yang bersifat permanent atau tsawabit ? Allah menjawab dalam firman-Nya berikut ini:
و إن جاهداك على أن تشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما و صاحبهما في الدنيا معروفا (لقمان : 15)    
 Bagi mereka tantangan yang berat, pertama datang dari dalam keluarga, teman sebaya dan masyarakat umum.[67] Itulah harga yang harus dibayar di dalam mencari kebenaran agama sejati seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim as.
و إذ قال إبرهيم لآبيه آ زر آتتخذ أصناما آلهة أنى أراك و قومك قي ضلال مبين ( الانغام : 74)                
       Dalam masalah aqidah Islamiyah, Islam tidak ada kata kompromi dan toleransi sebagaimana dicontohkan sikap tegas terhadap orang orang yang hendak membelokkan wajah kita dari Allah kearah Tuhan-tuhan agama social-budaya seperti apa yang dipraktekkan oleh John hick tokoh Pluralisme agama. Dan tokoh-tokoh pluralis Indonesia belum ada kasus tapi masih terbatas pada hal perkawinan beda agama sudah ada cermin pada diri pluralis yang disebut-sebut  Natsir Muda,  pendudung pluralisme agama. Tapi kita sebagai muslim sejati menurut Abu Hanifah menjadi keniscayaan untuk meneladani Rasulullah saw dan Nabi Ibrahim as. dan pernyataan sikap Nabi ini menjadi pernyataan umat islam sedunia dalam sholat limat waktu.
إنى وجهت وجهى للذي فطر السموات و الارض حنيفا وما أنا من المشركين ( الانعام : 79)
 Berdasarkan konsep Tuhan dalam Islam seperti yang dipaparkan oleh Abdul Ahad Dawud, matan pastur Katolik Roma dapat diaplikasikan dalam teologi global-nya John Hick dengan model Kantian, maka The Real an sich atau The Eternal One ( Zat yang Nyata atau Satu Yang Abadi sebagaimana adanya adalah Allah swt. Sedang  The phenomenal Real atau The phenomenal Eternal One ( Zat yang Nyata atau Satu Yang abadi sebagaimana tampak oleh manusia melalui kacamata-kacamata tradisi dan budaya yang berbeda-beda) itu adalah Tuhan agama-agama budaya ( Natural Religion ) dan Tuhan aliran kepercayaan atau Tuhan aliran kebatinan . Tuhan kepercayaan inilah yang oleh Ibn al-'Arabi disebut "Ilaah al-Mu'taqad atau al-Haqq al'Itiqaady atau al-Haqq al-Makhluuq fi al-I'tiqaad",[68] tidak termasuk konsep Tuhan dalam Islam. Dan Tuhan dalam Islam tunggal dan bersifat absolute, karena konsep Tuhan Allah diwahyukan dan Islam sebagai al-din pun ditanzilkan bukan muncul dari social-budaya manusia. Karena itu merupakan keniscayaan mengglobalisasikan istilah al-din daripada religion atau agama bagi setiap muslim. Dan adalah shohih apa yang dinyatakan oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani, siapa yang mencari dan menyembah Tuhan selain Allah adalah palsu alias musyrik dan kafir.

KESIMPULAN
Gagasan pluralism agama dimunculkan,sebenarnya ditujukan untuk menjadi solusi bagi kehidupan modern yang dilanda derasnya arus globalisasi yang dipicu oleh ledakan revolusi teknologi informasi, peran dan fungsi agama mulai ditantang. Tantangan yang seringkali dibebankan kepada agama adalah dalam menyelesaikan konflik dan perilakukekerasan, sebab agama sering dikaitkan dengan terjadinya pelbagai ketegangan dan kerusuhan. Ini sebenarnya tidakfair, sebab faktor-faktor dominan yang terjadi di lapangan seperti kesenjangan ekonomi dan sosial, penindasan,ketidakadilan dan lain malah dikesampingkan,
Alih alih gagasan pluralisme agama dapat menjadi solusi yang menengahi konflik antar agama pada era glibalisasi saat ini,bahkan menambah masalah baru yang mengancam eksistensi seluruh agama yang ada,faham pluralisme menjadi arogan dengan mengaku bahwa dirinyalah yang paliang benar.Sebenarnya islam telah member solusi dalam masalah ini dengan adanya toleransi antar umat beragama sebagaimana yang pernah terjadi di madinah pada zaman Rosulullah dengan adanya piagam madinah,inilah yang disebut oleh Anis Malik Toha dengan solusi praktikal administrative,bukan solusi teologis,karena konsep teologis dalam islam sudah final sejak berhentinya tanzil.
John Hick, salah satu tokoh terpentingnya, memperkenalkan konsep pluralisme agama dengan gagasannya yang ia sebut global theology. Selain Hick diantara tokohnya adalah Wilfred Cantwell Smith, pendiri McGill Islamic Studies. Tokoh-tokoh lain dapatdilihat dari karya Hick berjudul Probblems of Religious Pluralis.
            Jhon Hick memahami bahwa agama adalah 'religian' dari sudut social-budaya, yang berarti beragama merupakan unsur kebudayaan, dan suatu keniscayaan bersikap toleran terhadap budaya agama lain bahkan dibuktikan dengan ikut-serta dalam peribadatannya. John Hick sebagai tokohnya mendefinisikan 'religion' dari aspek esoterik yang secara sama dimiliki oleh semua tradisi agama-agama dunia. Hal ini jelas berbeda dengan istilah al-din dalam Islam yang secara tanzil mencakup dua aspek; baik aspek esoteric maupun aspek eksoterik.
Dalam memperkuat gagasannya tentang pluralism agama Hick juga mencari  justifikasi dari sumber agama ,tetapi justru menampakkan kelemahan teorinya,karena ternyata jusrtu ditolak oleh  masing masing pemeluk agama yang bersangkutan,diantaranya Hick menggunakan ungkapan rumi dalam “Al matsnawi” disisni sangat tampak bahwa Hick tidak menguasai apa yang ia tulis sendiri.Tapi sayangnya cara yang tidak fair ini justru diikuti oleh para pengusung pluralisme agama yang lain,tidak ketinggalan pula dari orang islam yang yang menafsirkan ayat ayat Al- Qur’an yang sesua dengan keiinginan mereka ,yaitu dipaksakan untuk mendukung plurlisme agama,tapu tentunya orang orang terpelajar muslim sangat faham sekali dimana letak kesalahan penafsiran mereka.
Hick juga mencari argumentasi secara sosiologis,ia mengemukakan gagasan ‘fortuity of birth”tapi sayang gagasan ini justru ditumbangkan oleh Jalaluddin Rumi dalam dialognya dengan orang Kristen yang bertanya kepadanya,apakah ia disalahkan jika mengikuti agama kedua orang tuanya dalam masalah beragama,langsung dijawab oleh Al-Rumi dengan pertanyaan lain,”bukankah kamu diberi mata yang berbedsa dg mata orang tuamu.
Berdasarkan perkembangan global ini,Hick memprediksi bahwa secara gradual akan terjadi converging courses (proses corvergensi cara cara beragama) dimasa yang akan datang,sehingga pada suatu ketika agama agama ini akan lebih menyerupai sekte yang beragam dalam Kristen di Amerika utara atau eropa saat ini daripada merupakan entitas entitas yang eksklusiv secara radikal.
Hick memandang bahwa Tuhan dengan The numenon Real ( Tuhan yang Nyata sebagaimana adanya) tidak dapat dibahasakan dengan bahasa manusia yang terbatas. Artinya, yang serba terbatas mustahil bisa memahami yang tak terbatas yakni Tuhan yang bersifat absolute. Sedang Tuhan dengan The phenomena Real ( Tuhan yang nampak bagi dan dalam konseptual manusia menurut budaya mereka masing-masing, ia adalah Tuhan yang diciptakan atau Tuhan dalam konsepsi manusia, maka bersifat relative.
           Konsep Tuhan dalam Islam adalah tanzil dari Allah langsung dan tidak benar Tuhan Allah disamakan dengan Tuhan-tuhan agama-agama itu. Konsep Tauhid  bukan saja monoteistik, sebab padanya harus ada factor keikhlasan untuk mengikuti submission yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Konsep monoteistik yang menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad saw tidak dapat ditolerir bisa saja, dari satu sisi. Pada sisi lain Agama Tauhid (Islam) secara tegas tetap mengakui pluralitas bukan pluralime agama
 Berdasarkan konsep Tuhan dalam Islam seperti yang dipaparkan oleh Abdul Ahad Dawud, matan pastur Katolik Roma dapat diaplikasikan dalam teologi global-nya John Hick dengan model Kantian, maka The Real an sich atau The Eternal One ( Zat yang Nyata atau Satu Yang Abadi sebagaimana adanya adalah Allah swt. Sedang  The phenomenal Real atau The phenomenal Eternal One ( Zat yang Nyata atau Satu Yang abadi sebagaimana tampak oleh manusia melalui kacamata-kacamata tradisi dan budaya yang berbeda-beda) itu adalah Tuhan agama-agama budaya ( Natural Religion ) dan Tuhan aliran kepercayaan atau Tuhan aliran kebatinan.
Dalam mengakhiri bahasan ini baiklah kita tuliskan konsep tuhan menurut  Prof. Naquip Al-Attas .Karena konsepsi mengenai tuhan dalam agama amat krusial,khususnya dalam mengartikulsikan secara benar bentuk penyerahan diri yang sesunnguhnya;dan konsepsi ini harus mampu mendeskrisikan sifat tuhan yang benar yang hanya bisa diperoleh dari wahyu.Dia adalah tuhan yang Esa Maha Hidup,Berdiri Sendiri Kekal dan Abadi.KeesaanNya bersifat absolut.kesatuannya merupakan kesatuan dzat sifat dan aksi. Dia tidak sama dengan penggerak pertama (first mover) dalam filsafat aristoteles.Penciptaan dan ciptaanNya tidak bisa disamakan dengan metafisika emanasi menurut Platinos .







[1] Dr Anis malik Toha tren pluralisme agama hal 78
[2] Aki Rabbani Gulpaigani, Huquqe Basyar, terjmh. Muhammad Musa,  Menggugat Pluralisme Agama, 2004,hlm. 14, dikutif dari Fisafat Agama, terjmh. Behram Rod. Hlm. 238
[3] Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme…Op. cit, hlm. 15.

[4] Sebagaimana yang dikutip oleh Dr anais malik Toha dalam tren pluralism agama hal 86
[5] Dr Anis MalikTohaTren Pluralisme Agama Hal 81
[6] Dr Anis Malik Toha,tren pluralism agama hal 78
[7] Hick, Jhon, Philosophy of religion hal 121,sebagaigaimana yang ditulis oleh Anis Malik Toha dalam tren pliralisme agama hal89.
[8] Ibid hal 47
[9]  An Interpretation of Religion: Human Responses to the Transcendent, Religion Pluralism, Philosophy of Religion, A Philosophy of Religions Pluralisme, Problems of Religion Pluralism, dll.
[10].W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia; Bagian Pertama, Huruf A s/d O, Cetakan  keempat, (Balai Pustaka, 1966), hlm.21.
[11] Jurnal Islamia, Thn 1 No. 3, September –Nopember 2004, rubric Telaah Utama, Konsep Islam sebagai Din Kajian terhadap Oemikiran Prof. Dr. SMN. Al-Attas, hlm.52
[12]Ibid, hlm.39
[13].Huston Smikth, The Religion of Man, dalam "Agama-agama Manusia",oleh SaafroedinBahar, (Yayasan Obor Indonesia, 2004), hlm. 102. Ramakrishna berkata :"Tuihan telah menciptakan berbagai agama untuk kepetingan berbagai pemeluk, waktu dan negeri. Semua ajaran hanya merupakan berbagai jalan, tetapi suatui jalan sama sekali bukanlah sama dengan Tuhan itu sendiri, sesungguhnya, seseorang akan mencapai Tuhan jika ia mengikuti jalan mana pun juga, dengan pengabdian diri yang sepenuh-penuhnya. Kita bisa memakan sepotong kue dengan lapisan gula, baik secara lurus atyau miring. Rasanya akan tetap enak, dengan lapisan apa pun juga".
[14]Ibid,hlm 42
[15] Aki Rabbani Gulpaigani, Huquqe Basyar, terjmh. Muhammad Musa,  Menggugat Pluralismeagama, 2004,hlm. 14, dikutif dari Fisafat Agama, terjmh. Behram Rod. Hlm. 238
[16] 5 Anis Malik Thoha, Mengarai Implikasi ……….. Op. cit, hlm. 2.

[17] Ali Mustafa Yaqub, Op. cit, hlm. 19.

[18]. Louis Ma'luf, al-Munjid: fi al-Lughah,(al-Mathba'ah al-Katsulikiyah, Beirut tth.) hlm. 231.
[19]. Moenawar Cholil, Definisi dan Sendi Agama, (Bulan Bintang, Jakarta 1970), hlm. 13.(Peraturan, undang-undang, pembalasan, perhitungan, hari kiamat dan agama itu sendiri)
[20].Toshihiko Izutzu, God and Man in the Koran: Semantics of the Koranic Weltanschuung, diterjm. Agus Fahri Husein, dkk, Relasi Tuhan dan Manusia; Pendekatan Semantik terhadap al-Qur'an,(Tiara Wacana Yogya, 2003) hlm.247.
[21]. QS : 12 : 76
(ما كان ليأ خذ أخاه في دين الملك إلا أن يشاء الله)
[22] Imam Ibnu Jarier al-Tahabry, Jami'ul Bayaan an Ta'wiel ayil-Qur'an, (Daar al-Fikr,1425-1426 H/ 2005 M) hlm. 29-30. Lihat, Imam Fakhr-ul-Razy, Al-Tafsier al-Kabier atauMafatieh-ul Ghaib,(Dar-ul-Kutub al-Ilmiyah, 1421H/2000M), jilid IX, hlm. 145. Lihat jugadalam al-Ustadz al-Hakiem al-Syeikh al-Thanthawy, Jawahir al-Mishry, (Daar-ul-Kutub Ilmiyah, Libenon, 1425/2004), Jilid IV, hlm. 56.
[23]. QS; al-Nahl, 16 : 52
(و له ما في السموات و الارض و له الدين واصبا أفغير الله تتقون)
[24].QS; Yunus, 10 : 104 dan baca surah CIV, ayat 1-6 (Al-Kafirun)
قل يأ يها الناس إن كنتم في شك من ديني فلآ أعبد الذين تعبدون من دون الله و لكن أغبد الله الذي يتوفاكم , و أمرت أن أكون من المؤمنين
(Hai manusia pluralis, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, dieny (Islam), maka (ketahuilah) aku tidak akan menyembah (a'budu) yang kamu sembah (ta'buduuna) selain ALLAH, tetapi aku menyembah ( a'budu) ALLAH). Demikian gambaran islam para nabi, seperti Nabi Ibrahim tidak mau menyembah apa yang disembah oleh ayahnya dan kaumnya.
[25].Toshihiko, Op. Cit. halm. 251
[26]. Prof. Dr. Muhammad Abdullah Darraz, Al-Din Buhuuts Mumahhidah li Dirasaat al-Adyaan ,( Cairo: 1417 H/1952 M, hlm.49-50. dikutif dalam, Tren Pluralisme Agama, Dr. Anis Malik Thaha, hlm.13, pada catatan kaki.
[27].Al-Attas,
[28] John Hick, 2005. .http://www.johnhick.org.uk/article11.html

[29] Nicolson R.A (ed dan terj)The Matsnawi of jalaluddin Rumi(lahore:IslamicBook service(1940)1989)Bab III,Baris 1254-1258 hal 71,sebagaimana yang telah ditulis oleh Dr Anis Malik Toha dalam bukunya Tren Pluralisme agama hal86
[30] Dr Anjs Malik Toha, 224 Tren Pluralisme Agama,hlm224
[31] Descourses of rumi,terjemahan bahasa inggris oleh Artur J Arberry(Richmon Curzon press 1993)hlm 135  sebaimana yang dinukil oleh Dr Anis Malik Toha dalam Tren Pluralisme agama hal245.
[32] Ibid hal 245
[33] Dr Anis MalikTohaTren Pluralisme Agama Hal 81
[34] Ibid hlm 81
[35].Hick, John, Op Cit., hlm. 81 " Copernicus menyadari bahwa pusatnya adalah matahari dan bukan bumi, dan bahwa semua benda langit, termasuk bumi kita sendiri,berputar mengelilinginya. Dan kita harus menyadari bahwa alam kepercayaan lain berpusat pada Allah, dan bukan pada Agama Kristen atau agama-agama lain. Ia adalah matahari, sumber asal cahaya dan khidupan, yang semua agama merefleksikannya di dalam cara m,ereka yang berbeda-beda.
[36] Hick, John, Ibid, hlm, 79 "Astronomi Ptolomeus lama menyatakan bahwa bumi menjadi pusat dari system tata surya dan bahwa semua benda langit lain berputar mengelilinginya Dengan analogi, doktrin "tidak ada keselamatan di luar agama Kristen" terse but adalah secara teologis bersifat Ptolomeus. Agama Kristen dilihat sebagai pusat dari alam semesta iman, dan semua agama yang lain dianggap berputar mengelilinginga dinilai menurut jarak mereka dari pusat tersebut."
      [37].Hick, John, God Has Many Name, hlm. 79 dan 81 Lihat dalam Malik Thoha, Anis Dr. Tren Pluralisme Agama, (Perspektif, 2005), hlm.82
[38]  Ibid, hlm. 161
[39].Hick, Relegious Pluralism, hlm. 148 dan dalam Problem of Religious Pluralism, hlm. 29
[40] Golongan-golongan besar seperti; Hinduisme, Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme.
[41] Misalnya; Marxisme, Maoisme, dan Humanisme.(Lihat, God Has Many Name, hlm, 13
[42] Kant sendiri tidak memandang perlu upaya ini dilakukan karena menurutnya di luas batas kemampuan akal manusia. Lihat Aslan ,Adnan, hlm. 2-13, Lihat juga, Malik Thaha, Anis Dr, Tren Pluralisme Agama, hlm. 84, Lihat juga, Hick, John, God Has Many Name, hlm, 57.
[43]Hick, John, God Has Many Name, hlm.40
[44] Ibid, hlm.71
[45] Di sinagog Yahudi Allah dipuja sebagai pencipta langit dan bumi, dan sebagai Tuhan Abraham dan Isak serta Yakub, yang membimbing anak-anak Israel keluiar dari Mesir menuju Tanah yang dijanji kan Do'a orang Yahudi yang khas:" Dengan cinta agung Engkau telah mencintai kami, O Tuhan Allah kami,…dan menegakkan dengan segenap cinta dari firman-firman-Mu"(Dari Pelayanan Pagi hari kerja dalam Service of the Heart: Weekday Sabbath and Festival Services and Prayers for Home and Synagogue, hlm, 40f:London: Union of Liberal and Progressive Synagoguei, 1967) Di Masjid muslim, Allah dipuja sebagai pencipta langit dan bumi, dan sebagai Tuhan yang berdaulat atas alam semesta, maka esa, suci dan pemurah. Do'a Muslim yang khas:" Segala puji bagi Allah, Tuhan segala ci[ptaan, sumber dari semua mata pencaharian,….(Kenneth Cragg.,ed., Alive to God Muslim and Christian Pra yer, hlm. 65: London: Oxford University Press, 19760). Di Gurdwara Sikh Allah dipuja sebagai pencipta langit dan bumki, Penguasa waktu yang sangat ramah dan Tuhan keabadian,….Doa kaum Sikh :" Hanya ada satu Tuhan/ Ia adalah segala/Ia adalah Pencipta segalanya dan Ia meliputi semua…. .Ia adalah Sang Penerang/Dan dapat dinyatakan oleh rahmat diri-Nya sendiri….(Japji) Di kuil-kuil Hindu Teistek, Allah dipuja sebagai Tuhan terakhir dari segalanya,m jiwa Tuhan tak terbatas yang dikenal dalam banyak aspek dan sebutan. Disini ada himne yang khas :"O selamatkan  saya, selamatkan saya, Yang Maha Perkasa/Selamatkan saya dan bebeskan saya/ O biarkan cinta yang mengisi dada saya/ Lekat dengan-Mu dengan penuh cinta ….. Saya akan menari di depan Tuhanku. (AC. Bouquet, ed., Sacred Books of the World,hlm.246; Pelican Books, 1945) Lihat, God Has Many Name, hlm,71-74.
[46]Lihat, Malik Thaha, Anis Dr, Tren Pluralisme Agama, hlm.84
[47]Mengenai apa yang dimaksud personal dan impersonal secara detail, lihat, Hick, John, An Interpretation of Religion, fasal 15 dan 16, hlm, 522-296; dan juga …
67. Hick, John,"The Real and its Personae and Impersonae,' dalam Tessier, Linda J, (ed), Comcepts of the Ultimate: Philosophical Perspective on the Nature of the Divine (London; The Macmillan Press, 1989) hlm.hlm 150.


[49] Hick, John, hlm 57 Konsep "Tuhan Punya Banyak Nama" ini disampaikan pada kuliah tahunan yang ke-27, mengenang Claude Goldsmid Montefiore di Sinagog, di depan umat Yahudi. Hick mengataknan :"Dalam mengasumsikan realitas obyek peribadatan,m eidtasi, dan pengalaman keagamaan, bagaimana kita menyebut realitas tersebut ? Kemudian Hick mengusulkan untuk menggunakan istilah "the Enternal One" (Satu Yang Abadi). Lanjutnya, Istilah ini secara bebas menggambarkan dua sisi yang berbeda, pada satu sisi menyatakan Satu yang tak dapat dilukiskan dari tradisi mistis, apakah itu Satu nya Plotinus atau Satu tanpa yan g kedua (One without a second) dari Upanishad, dan pada sisi lain Satu yang Maha Kudus dari pengalaman Teistek, apakah Satu yang Maha Kudus dari Israel atau model puja Teistek India.
[50]Sukidi, Titik Temu Agama-agama, Polemik Anand Vs Pengkritiknya, http://satunet.com/artikel/isi/00/10/07/27527.html.
[51]. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Percikan Cahaya Ilahi Petuah-petuah, (Pustaka Hidayah, 2005),hlm. 76
[52]Imam Al-Syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal, telah ditakhrij oleh Muhammad bin Fathullah Badran,  (Maktabah al-Anjaluw al-Mishriyah, 1392) hlm. 51.Lihat dalam Dr. 'Awwad bin Abdullah al-Mu'tiq, Al-Mu'tazilah wa Ushuluhum al-Khamsah wa Mauqifu Ahl al-Sunnah minha,(Maktabah Al-Rastd, al-Riyadh,1414 H), hlm.84.
[53] Lihat dalam, Hasyimsyah Nasution, MA, Dr, Filsafat Islam, (Gaya Media Pratama,Jakarta,2005) dan H. A. Mustofa, Filsafat Islam, (Pustaka Setia, 2007)
[55].Apakah kamu hen dak berbantah denganku(Nabi Hud) 'tentang' nama-nama(berhala) yang kamu dan nenek moyangmu buat sendiri, padahal Allah tidak menurunkan keterangan untuk itu ?
[56]. Apakah kamu sembah selain Dia (Allah), hanyalah nama-nama yang kamu buat dan nenek moyang mu, padahal Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selaim Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
[57].Itu tidak lain hanyalah nama-nama Tuhan yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk(menyembah)nya. Mereka hanya mengukiti duaan, dan apa yang diingin oleh keinginannya. Padahal sungguhnya, telah dfatang petunjuk dari Tuhan mereka.i
[58]. Lihat, Tafsir al-Maraghy, Jilid IX, hlm. 254.
[59].QS; 31 :30
[60].Ibid. hlm. 174-175.
[61] Ibid. hlm.vi
[62] Fathul Umam, Surah-menyurat Maryam Jamilah-Maududi, diterj dari buku berbahasa Inggris, Corrspondense between Maulana Maududi and Maryam Jamilah,(Muhammad Yusuf Khan, Lahore, 1978), hlm.vii.
[64].Jurnal Islamia, Thn 1. No 3, hlm.52
[65].Ahmad Bahjat; Mengenal Allah, Risalah Baru Tauhid (Pustaka Hidaya, 2006),hlm.23,
[66].QS; 7:172
[67] Baca Surat-menyurat Maryam Jamilah(Margaret Marcus) dengan Maulana Abul 'Ala Maududi.
[68] .Kautsar Azhari Noer, Dr. Tasawuf Perenial; Kearifan Kritis Kaum Sufi,( Serambi, 2003), hlm 36

Share this

0 Comment to "PROBLEM PLURALISME AGAMA (KASUS PEMIKIRAN JHON HICK)"

Posting Komentar