Selasa, 07 Juli 2015

hindari masturbasi

Sesungguhnya penjagaan terhadap jiwa adalah perkara yang telah diketahui secara jelas dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Salallahu 'alaihi wassalam….
Adapun berbagai macam bahaya serius yang mungkin terjadi karena melakukan hal yang melampaui batas adalah sebagai berikut:
Bahaya pertama:  Bahaya  jiwa
Adapun dampak negatif yang muncul karena melakukan perbuatan tersebut dapat menimbulkan gangguan jiwa yang sangat membahayakan diantaranya:
1.      Hilangnya selera makan, putus harapan, mencari kebebasan
2.      Nifak, putus asa, dan penyesalan
3.      Ketegangan jiwa, kegelisahan, berkurangnya kesungguhan
4.      Merasa terhina dan hilangnya harga diri
5.      Merasa hidupnya sia-sia, kemalasan, dan jiwanya dliputi kesedihan
6.      Menyendiri, menjauh dari kehidupan bermasyarakat, merusak akal, lemahnya daya ingatan
Bahaya Kedua: Bahaya Badan
Dampak negative dari istimna' ini tidak hanya menyerang jiwa dan rohani manusia saja!! Tetapi juga berefek kepada jasmaninya. Diantara bahaya yang ditimbulkan adalah:
1.      Turunnya berat badan dan lemahnya imunitas tubuh
2.      Lemah pandangan dan terganggunya penglihatan
3.      Impoten dan lemah syahwat
4.      Sedikit keturunan, kemandulan (ketidak suburan), hilangnya keperawanan
5.      Merusak anggota tubuh (organ tubuh)
6.      Rusaknya alat pencernaan
Bahaya Ketiga:  Bahaya sosiologi
Sebagaimana adanya bahaya jiwa dan badan, begitu juga akan berpengaruh kepada masyarakat, bahaya yang timbul sebagai berikut:
1.      Bertambahnya kerusakan yang disebabkan adanya gesekan dalam usapan tersebut
2.      Menjaga adanya pemikiran sendiri dan penyimpangannya
3.      Nampaknya permasalahan keluarga dan permasalahan akhlak indifidu
4.      Nampaknya peselisihan pemikiran dan meluasnya syahwat dengan jalan yang baru dan bermacam-macam
5.      Hilangnya (musnah) kehidupan, kehormatan, dan nampaknya kejelekan
6.      Banyak perceraian dan perpecahan antar suami istri
Bukanlah tujuan utama yang dijelaskan sebelumnya, bagi siapa yang ingin menambah dan mengetahui dalil-dalil yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu penjelasan dari bahaya-bahaya diatas, terdapat pada pembahasan berikut ini:
·         Tuhfatu Asy-Syabab Ar-Robani Fii Ar-Rodi  (Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani  Rahimahullah Risalah Syaikh Muqbil bin Hadii Al-Wadi'i
·         Al-Istiqsha'u Liadillati Tahrim Al-Istimna'u (Abdhullah Muhammad Al-Ghomari
·         Qomus Al-Amradh wa 'Ilajiha (Dr. Muhammad Rafiath)
·         Adh-Dha'fu Al-Tanasili  'Inda Ar-Rijali wa An-Nisai (Dr.Husain Al-Harowi)
·         Al-'Alaqoti Al-Jinsiyati (Dr. Habib Musa)
·         Thobibika Fii Baitika (Pengarang Jami' min Al-Athba'I di Eropa an Amerika)
·         Al-Intishor Ala Al-'Adatu As-Sarayatu Wasailu 'Amaliyyatu Lilwiqoyati wa Al-Ilaji Minha (Rami Kholid Abdhullah Al-Khadhor)
·         Lir-Rijal Faqod (Dr. Muhammad Maghowiri)
Perlu diperhatikan adanya dalil kebiasaan yang berbahaya, sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Muhammad Maghowiri dalam kitabnya yang berjudul  "Lir-Rijali Faqod", didalamnya terdapat pembahasan tentang alat kelamin bagi laki-laki dan penyakit yang menimpa laki-laki, dan yang berhubungan dengan itu dari perkara istimta'.
Berkata: menjaga dengan kesempurnaan penjagaan dari bahaya yang ada, adapun sebab-sebab permasalahan yang banyak disebutkan diantaranya: Lemahnya pandangan, tidak ada kemampuan dalam berkonsentrasi  (Tarkiz), Hilang hafalan, mengakhirkan jalan keturunan, sebagaimana adanya bahaya yang terbesar  yaitu tidak ada kemampuan pada laki-laki untuk menjaga hak-hak jiwa (badan) bersama istrinya.
SEMBILAN: PERKARA–PERKARA YANG MENJADI NASEHAT BAGI KEHIDUPAN SEHARI-HARI
·         Banyak berdzikir, beristighfar, taubah, serta bersholawat kepada Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam
·         Membaca Al-Qur'an dengan mentadaburinya secara khusu', serta dapat mencarinya dalam kitab tafsir
·         Sholat berjama'ah dalam masjid, pergi dengan berjalan kaki apabila mudah baginya
·         Menghadiri majlis ilmu
·         Mengenal dan bersahabat dengan orang-orang shaleh dari ahli ilmi.
SEPULUH: QAIDAH-QAIDAH UMUM
KAIDAH: bersabar dalam kesembuhan lebih baik dari kebiasaan yang berbahaya
Bahwasanya keharaman itu tidak akan hilang dengan keharaman, akan tetapi menolak keharaman itu dengan berjuang melawan hawa nafsu syaithon, bersabar dari berbuat ma'siat, mejalankan perintah-perintah Allah Ta'ala, takut kepada adzabNya, menjadikan dunia sebagai ladang amalnya, memperbaiki amalannya, bersandar kepada kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam QS. Al-Mulk: 2.
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2)
KAIDAH:  Sekeping Iman dapat memadamkan api syahwat setan
            Sebagaimana kuatnya keimanan seorang muslim dan rendahnya keimanannya merupakan perkara syahwat secara umumya. Dan selemah-lemahnya iman karena kuatnya syahwat, sehingga dapat kembali kepada kebenaran ketika kuat keimanannya.
            Sesungguhnya Allah Ta'ala memberikan penyakit kecuali juga memberikan obatnya. Ilmunya dari ilmunya dan kebodohan dari kebodohannya. Dan hendaknya seorang hamba menguatkan imannya -dari segala penyakit- untuk membersihkan dari api syahwat -adapun obatnya- adalah sebagai penguatnya. Bagi siapa saja yang tidak bisa menjaga dan meninggalkan syahwat, ini merupakan dalil dari lemahnya iman.
            Maka seharusnya menghindarkan diri dari hawa nafsu dan terkecuali kamu mengikutinya -wahai hamba Allah- yaitu jalan kebinasaan jiwa, seperti anak kecil jika telah dewasa (berumur) yang sedang menyusui, apabila telah sampai waktunya menyapih maka sapihlah. Seharusnya dari iman yang kuat dapat menghindar kepada sekecil apapun syahwat yang diharamkannya. 
KAIDAH:  Melawan bahaya-bahaya syahwat sebelum terjerumus kejalannya
            Berhati-hatilah –wahai hamba Allah- dari adanya bentuk kebahayaan dengan jalan mengikutinya., adapun bentuk kemaksiatanmu adalah jalan yang menyulitkanmu terbebas dari jalan ini. Tetapi peliharalah dirimu selalu ketika terjatuh kepada kemaksiatan, bertaubat kepada Allah Ta'ala dengan menghindari kemaksiatan dan berusaha untuk tidak kembali (maksiat).
            Janganlah menjadikan maksiat sebagai jalan yang mempengaruhi jalanmu dan kepribadianmu, maka hindarilah maksiat – didalamnya dapat mempengaruhimu dan dihiasi oleh syetan- kepada perkara yang ma'ruf,  yang membahayakan dirimu dan yang lainnya. Tetapi dengan melawan syahwat sebelum terjerumus kejalannya dengan mengikutinya.
KAIDAH: Jiwa yang menghindari nifak menunjukkan adanya iman dalam hati
            Bagi setiap muslim yang terjatuh kepada kemaksiatan- diantaranya istimna'- maka jiwa yang meghindari nifak menunjukan adanya kebaikan dalam hatinya, agar sempurnanya kebaikan yaitu dengan menjauhi kemaksiatan ini. Maka iman dalam hati tidak akan terjerumus kepada kenifakan dan tidak terjatuh dalam kemaksiatan.
            Setiap muslim dianjurkan untuk menguatkan imannya, dan menjauhi pada setiap yang membahayakan imannya dan dapat menumbuhkan syahwatnya, yang ditakutkan terjatuh kepada keharaman. Maka iman akan terjaga darinya dan tidak kembali kepada kenifakan kecuali setelah menjauhi kemaksiatan dan taubat nasuha.
KAIDAH: Meninggalkan dosa-dosa dapat menenangkan jiwa dan menghilangkan kesedihan.
            Istimna' merupakan perkara yang diharamkan, dan diwajibkan bagi setiap orang untuk membentenginya agar tidak terjatuh didalamnya, Apabila terjatuh didalamnya hendaknya bersegera untuk bertaubat, tidak mengulanginya kembali serta meninggalkan perbuatan yang keji itu dan menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.
Tidak diragukan lagi bahwasanya meninggalkan dosa dapat menenangkan jiwa dan menghilangkan kesedihan, sebagaimana perbuatan-perbuatan yang menjadikan jiwa lemah. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala dalam QS. Thoha: 123.
Hendaknya meninggalkan dosa-dosa serta bertaubat darinya. Maka hati yang terjatuh dalam setiap  perkara yang menimpanya, yaitu dengan bersegera menyembuhkan dan mengobatinya. Adapun ketenangan hati dengan mengikuti perkara yang benar, sebagaimana yang menjadikan manisnya iman dengan nikmat dan anugrah dari Allah Ta'ala.
KAIDAH: Buah dari shalat dapat menjauhkan diri dari kekejian
Bahwasanya buah dari sholat yaitu dapat menjauhkan diri dari kekejian dan menjauhkan dari perkara maksiat, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam QS. Al-Ankabut: 45.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)
Kekhusuan hati seorang hamba dan amalan anggota badannya yaitu dengan sholat. Dan sholatlah sebagaimana sholatnya Nabi Salallahu 'Alaihi wassalam. Sholat merupakan pengaruh yang besar dalam perbuatan seorang hamba kepada kebaikan, ketaqwaan, dan tetap berpegang teguh kepada dien Allah Ta'ala.



   

hindari masturbasi

Sesungguhnya penjagaan terhadap jiwa adalah perkara yang telah diketahui secara jelas dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Salallahu 'alaihi wassalam….
Adapun berbagai macam bahaya serius yang mungkin terjadi karena melakukan hal yang melampaui batas adalah sebagai berikut:
Bahaya pertama:  Bahaya  jiwa
Adapun dampak negatif yang muncul karena melakukan perbuatan tersebut dapat menimbulkan gangguan jiwa yang sangat membahayakan diantaranya:
1.      Hilangnya selera makan, putus harapan, mencari kebebasan
2.      Nifak, putus asa, dan penyesalan
3.      Ketegangan jiwa, kegelisahan, berkurangnya kesungguhan
4.      Merasa terhina dan hilangnya harga diri
5.      Merasa hidupnya sia-sia, kemalasan, dan jiwanya dliputi kesedihan
6.      Menyendiri, menjauh dari kehidupan bermasyarakat, merusak akal, lemahnya daya ingatan
Bahaya Kedua: Bahaya Badan
Dampak negative dari istimna' ini tidak hanya menyerang jiwa dan rohani manusia saja!! Tetapi juga berefek kepada jasmaninya. Diantara bahaya yang ditimbulkan adalah:
1.      Turunnya berat badan dan lemahnya imunitas tubuh
2.      Lemah pandangan dan terganggunya penglihatan
3.      Impoten dan lemah syahwat
4.      Sedikit keturunan, kemandulan (ketidak suburan), hilangnya keperawanan
5.      Merusak anggota tubuh (organ tubuh)
6.      Rusaknya alat pencernaan
Bahaya Ketiga:  Bahaya sosiologi
Sebagaimana adanya bahaya jiwa dan badan, begitu juga akan berpengaruh kepada masyarakat, bahaya yang timbul sebagai berikut:
1.      Bertambahnya kerusakan yang disebabkan adanya gesekan dalam usapan tersebut
2.      Menjaga adanya pemikiran sendiri dan penyimpangannya
3.      Nampaknya permasalahan keluarga dan permasalahan akhlak indifidu
4.      Nampaknya peselisihan pemikiran dan meluasnya syahwat dengan jalan yang baru dan bermacam-macam
5.      Hilangnya (musnah) kehidupan, kehormatan, dan nampaknya kejelekan
6.      Banyak perceraian dan perpecahan antar suami istri
Bukanlah tujuan utama yang dijelaskan sebelumnya, bagi siapa yang ingin menambah dan mengetahui dalil-dalil yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu penjelasan dari bahaya-bahaya diatas, terdapat pada pembahasan berikut ini:
·         Tuhfatu Asy-Syabab Ar-Robani Fii Ar-Rodi  (Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani  Rahimahullah Risalah Syaikh Muqbil bin Hadii Al-Wadi'i
·         Al-Istiqsha'u Liadillati Tahrim Al-Istimna'u (Abdhullah Muhammad Al-Ghomari
·         Qomus Al-Amradh wa 'Ilajiha (Dr. Muhammad Rafiath)
·         Adh-Dha'fu Al-Tanasili  'Inda Ar-Rijali wa An-Nisai (Dr.Husain Al-Harowi)
·         Al-'Alaqoti Al-Jinsiyati (Dr. Habib Musa)
·         Thobibika Fii Baitika (Pengarang Jami' min Al-Athba'I di Eropa an Amerika)
·         Al-Intishor Ala Al-'Adatu As-Sarayatu Wasailu 'Amaliyyatu Lilwiqoyati wa Al-Ilaji Minha (Rami Kholid Abdhullah Al-Khadhor)
·         Lir-Rijal Faqod (Dr. Muhammad Maghowiri)
Perlu diperhatikan adanya dalil kebiasaan yang berbahaya, sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Muhammad Maghowiri dalam kitabnya yang berjudul  "Lir-Rijali Faqod", didalamnya terdapat pembahasan tentang alat kelamin bagi laki-laki dan penyakit yang menimpa laki-laki, dan yang berhubungan dengan itu dari perkara istimta'.
Berkata: menjaga dengan kesempurnaan penjagaan dari bahaya yang ada, adapun sebab-sebab permasalahan yang banyak disebutkan diantaranya: Lemahnya pandangan, tidak ada kemampuan dalam berkonsentrasi  (Tarkiz), Hilang hafalan, mengakhirkan jalan keturunan, sebagaimana adanya bahaya yang terbesar  yaitu tidak ada kemampuan pada laki-laki untuk menjaga hak-hak jiwa (badan) bersama istrinya.
SEMBILAN: PERKARA–PERKARA YANG MENJADI NASEHAT BAGI KEHIDUPAN SEHARI-HARI
·         Banyak berdzikir, beristighfar, taubah, serta bersholawat kepada Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam
·         Membaca Al-Qur'an dengan mentadaburinya secara khusu', serta dapat mencarinya dalam kitab tafsir
·         Sholat berjama'ah dalam masjid, pergi dengan berjalan kaki apabila mudah baginya
·         Menghadiri majlis ilmu
·         Mengenal dan bersahabat dengan orang-orang shaleh dari ahli ilmi.
SEPULUH: QAIDAH-QAIDAH UMUM
KAIDAH: bersabar dalam kesembuhan lebih baik dari kebiasaan yang berbahaya
Bahwasanya keharaman itu tidak akan hilang dengan keharaman, akan tetapi menolak keharaman itu dengan berjuang melawan hawa nafsu syaithon, bersabar dari berbuat ma'siat, mejalankan perintah-perintah Allah Ta'ala, takut kepada adzabNya, menjadikan dunia sebagai ladang amalnya, memperbaiki amalannya, bersandar kepada kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam QS. Al-Mulk: 2.
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2)
KAIDAH:  Sekeping Iman dapat memadamkan api syahwat setan
            Sebagaimana kuatnya keimanan seorang muslim dan rendahnya keimanannya merupakan perkara syahwat secara umumya. Dan selemah-lemahnya iman karena kuatnya syahwat, sehingga dapat kembali kepada kebenaran ketika kuat keimanannya.
            Sesungguhnya Allah Ta'ala memberikan penyakit kecuali juga memberikan obatnya. Ilmunya dari ilmunya dan kebodohan dari kebodohannya. Dan hendaknya seorang hamba menguatkan imannya -dari segala penyakit- untuk membersihkan dari api syahwat -adapun obatnya- adalah sebagai penguatnya. Bagi siapa saja yang tidak bisa menjaga dan meninggalkan syahwat, ini merupakan dalil dari lemahnya iman.
            Maka seharusnya menghindarkan diri dari hawa nafsu dan terkecuali kamu mengikutinya -wahai hamba Allah- yaitu jalan kebinasaan jiwa, seperti anak kecil jika telah dewasa (berumur) yang sedang menyusui, apabila telah sampai waktunya menyapih maka sapihlah. Seharusnya dari iman yang kuat dapat menghindar kepada sekecil apapun syahwat yang diharamkannya. 
KAIDAH:  Melawan bahaya-bahaya syahwat sebelum terjerumus kejalannya
            Berhati-hatilah –wahai hamba Allah- dari adanya bentuk kebahayaan dengan jalan mengikutinya., adapun bentuk kemaksiatanmu adalah jalan yang menyulitkanmu terbebas dari jalan ini. Tetapi peliharalah dirimu selalu ketika terjatuh kepada kemaksiatan, bertaubat kepada Allah Ta'ala dengan menghindari kemaksiatan dan berusaha untuk tidak kembali (maksiat).
            Janganlah menjadikan maksiat sebagai jalan yang mempengaruhi jalanmu dan kepribadianmu, maka hindarilah maksiat – didalamnya dapat mempengaruhimu dan dihiasi oleh syetan- kepada perkara yang ma'ruf,  yang membahayakan dirimu dan yang lainnya. Tetapi dengan melawan syahwat sebelum terjerumus kejalannya dengan mengikutinya.
KAIDAH: Jiwa yang menghindari nifak menunjukkan adanya iman dalam hati
            Bagi setiap muslim yang terjatuh kepada kemaksiatan- diantaranya istimna'- maka jiwa yang meghindari nifak menunjukan adanya kebaikan dalam hatinya, agar sempurnanya kebaikan yaitu dengan menjauhi kemaksiatan ini. Maka iman dalam hati tidak akan terjerumus kepada kenifakan dan tidak terjatuh dalam kemaksiatan.
            Setiap muslim dianjurkan untuk menguatkan imannya, dan menjauhi pada setiap yang membahayakan imannya dan dapat menumbuhkan syahwatnya, yang ditakutkan terjatuh kepada keharaman. Maka iman akan terjaga darinya dan tidak kembali kepada kenifakan kecuali setelah menjauhi kemaksiatan dan taubat nasuha.
KAIDAH: Meninggalkan dosa-dosa dapat menenangkan jiwa dan menghilangkan kesedihan.
            Istimna' merupakan perkara yang diharamkan, dan diwajibkan bagi setiap orang untuk membentenginya agar tidak terjatuh didalamnya, Apabila terjatuh didalamnya hendaknya bersegera untuk bertaubat, tidak mengulanginya kembali serta meninggalkan perbuatan yang keji itu dan menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.
Tidak diragukan lagi bahwasanya meninggalkan dosa dapat menenangkan jiwa dan menghilangkan kesedihan, sebagaimana perbuatan-perbuatan yang menjadikan jiwa lemah. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala dalam QS. Thoha: 123.
Hendaknya meninggalkan dosa-dosa serta bertaubat darinya. Maka hati yang terjatuh dalam setiap  perkara yang menimpanya, yaitu dengan bersegera menyembuhkan dan mengobatinya. Adapun ketenangan hati dengan mengikuti perkara yang benar, sebagaimana yang menjadikan manisnya iman dengan nikmat dan anugrah dari Allah Ta'ala.
KAIDAH: Buah dari shalat dapat menjauhkan diri dari kekejian
Bahwasanya buah dari sholat yaitu dapat menjauhkan diri dari kekejian dan menjauhkan dari perkara maksiat, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam QS. Al-Ankabut: 45.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)
Kekhusuan hati seorang hamba dan amalan anggota badannya yaitu dengan sholat. Dan sholatlah sebagaimana sholatnya Nabi Salallahu 'Alaihi wassalam. Sholat merupakan pengaruh yang besar dalam perbuatan seorang hamba kepada kebaikan, ketaqwaan, dan tetap berpegang teguh kepada dien Allah Ta'ala.