Sesungguhnya penjagaan
terhadap jiwa adalah perkara yang telah diketahui secara jelas dalam Al-Qur'an
dan Sunnah Nabi Salallahu 'alaihi wassalam….
Adapun
berbagai macam bahaya serius yang mungkin terjadi karena melakukan hal yang
melampaui batas adalah sebagai berikut:
Bahaya pertama: Bahaya
jiwa
Adapun dampak negatif
yang muncul karena melakukan perbuatan tersebut dapat menimbulkan gangguan jiwa
yang sangat membahayakan diantaranya:
1.
Hilangnya selera
makan, putus harapan, mencari kebebasan
2.
Nifak, putus
asa, dan penyesalan
3.
Ketegangan
jiwa, kegelisahan, berkurangnya kesungguhan
4.
Merasa terhina
dan hilangnya harga diri
5.
Merasa
hidupnya sia-sia, kemalasan, dan jiwanya dliputi kesedihan
6.
Menyendiri,
menjauh dari kehidupan bermasyarakat, merusak akal, lemahnya daya ingatan
Bahaya Kedua: Bahaya Badan
Dampak
negative dari istimna' ini tidak hanya menyerang jiwa dan rohani manusia saja!!
Tetapi juga berefek kepada jasmaninya. Diantara bahaya yang ditimbulkan adalah:
1.
Turunnya berat
badan dan lemahnya imunitas tubuh
2.
Lemah
pandangan dan terganggunya penglihatan
3.
Impoten dan
lemah syahwat
4.
Sedikit
keturunan, kemandulan (ketidak suburan), hilangnya keperawanan
5.
Merusak anggota
tubuh (organ tubuh)
6.
Rusaknya alat
pencernaan
Bahaya Ketiga: Bahaya sosiologi
Sebagaimana
adanya bahaya jiwa dan badan, begitu juga akan berpengaruh kepada masyarakat,
bahaya yang timbul sebagai berikut:
1.
Bertambahnya
kerusakan yang disebabkan adanya gesekan dalam usapan tersebut
2.
Menjaga adanya
pemikiran sendiri dan penyimpangannya
3.
Nampaknya
permasalahan keluarga dan permasalahan akhlak indifidu
4.
Nampaknya
peselisihan pemikiran dan meluasnya syahwat dengan jalan yang baru dan
bermacam-macam
5.
Hilangnya
(musnah) kehidupan, kehormatan, dan nampaknya kejelekan
6.
Banyak
perceraian dan perpecahan antar suami istri
Bukanlah
tujuan utama yang dijelaskan sebelumnya, bagi siapa yang ingin menambah dan
mengetahui dalil-dalil yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu penjelasan dari
bahaya-bahaya diatas, terdapat pada pembahasan berikut ini:
·
Tuhfatu
Asy-Syabab Ar-Robani Fii Ar-Rodi (Imam
Muhammad bin Ali Asy-Syaukani
Rahimahullah Risalah Syaikh Muqbil bin Hadii Al-Wadi'i
·
Al-Istiqsha'u
Liadillati Tahrim Al-Istimna'u (Abdhullah Muhammad Al-Ghomari
·
Qomus
Al-Amradh wa 'Ilajiha (Dr. Muhammad Rafiath)
·
Adh-Dha'fu
Al-Tanasili 'Inda Ar-Rijali wa An-Nisai
(Dr.Husain Al-Harowi)
·
Al-'Alaqoti
Al-Jinsiyati (Dr. Habib Musa)
·
Thobibika Fii
Baitika (Pengarang Jami' min Al-Athba'I di Eropa an Amerika)
·
Al-Intishor
Ala Al-'Adatu As-Sarayatu Wasailu 'Amaliyyatu Lilwiqoyati wa Al-Ilaji Minha
(Rami Kholid Abdhullah Al-Khadhor)
·
Lir-Rijal
Faqod (Dr. Muhammad Maghowiri)
Perlu
diperhatikan adanya dalil kebiasaan yang berbahaya, sebagaimana yang dikatakan
oleh Dr. Muhammad Maghowiri dalam kitabnya yang berjudul "Lir-Rijali Faqod", didalamnya
terdapat pembahasan tentang alat kelamin bagi laki-laki dan penyakit yang
menimpa laki-laki, dan yang berhubungan dengan itu dari perkara istimta'.
Berkata: menjaga
dengan kesempurnaan penjagaan dari bahaya yang ada, adapun sebab-sebab
permasalahan yang banyak disebutkan diantaranya: Lemahnya pandangan, tidak ada
kemampuan dalam berkonsentrasi (Tarkiz),
Hilang hafalan, mengakhirkan jalan keturunan, sebagaimana adanya bahaya yang terbesar yaitu tidak ada kemampuan pada laki-laki
untuk menjaga hak-hak jiwa (badan) bersama istrinya.
SEMBILAN:
PERKARA–PERKARA YANG MENJADI NASEHAT BAGI KEHIDUPAN SEHARI-HARI
·
Banyak
berdzikir, beristighfar, taubah, serta bersholawat kepada Nabi Muhammad
Salallahu 'Alaihi Wassalam
·
Membaca
Al-Qur'an dengan mentadaburinya secara khusu', serta dapat mencarinya dalam
kitab tafsir
·
Sholat
berjama'ah dalam masjid, pergi dengan berjalan kaki apabila mudah baginya
·
Menghadiri majlis
ilmu
·
Mengenal dan
bersahabat dengan orang-orang shaleh dari ahli ilmi.
SEPULUH:
QAIDAH-QAIDAH UMUM
KAIDAH: bersabar dalam kesembuhan
lebih baik dari kebiasaan yang berbahaya
Bahwasanya
keharaman itu tidak akan hilang dengan keharaman, akan tetapi menolak keharaman
itu dengan berjuang melawan hawa nafsu syaithon, bersabar dari berbuat ma'siat,
mejalankan perintah-perintah Allah Ta'ala, takut kepada adzabNya, menjadikan
dunia sebagai ladang amalnya, memperbaiki amalannya, bersandar kepada
kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam QS. Al-Mulk: 2.
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ
أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2)
KAIDAH: Sekeping Iman dapat memadamkan api syahwat
setan
Sebagaimana
kuatnya keimanan seorang muslim dan rendahnya keimanannya merupakan perkara
syahwat secara umumya. Dan selemah-lemahnya iman karena kuatnya syahwat,
sehingga dapat kembali kepada kebenaran ketika kuat keimanannya.
Sesungguhnya
Allah Ta'ala memberikan penyakit kecuali juga memberikan obatnya. Ilmunya dari
ilmunya dan kebodohan dari kebodohannya. Dan hendaknya seorang hamba menguatkan
imannya -dari segala penyakit- untuk membersihkan dari api syahwat -adapun
obatnya- adalah sebagai penguatnya. Bagi siapa saja yang tidak bisa menjaga dan
meninggalkan syahwat, ini merupakan dalil dari lemahnya iman.
Maka
seharusnya menghindarkan diri dari hawa nafsu dan terkecuali kamu mengikutinya
-wahai hamba Allah- yaitu jalan kebinasaan jiwa, seperti anak kecil jika telah
dewasa (berumur) yang sedang menyusui, apabila telah sampai waktunya menyapih
maka sapihlah. Seharusnya dari iman yang kuat dapat menghindar kepada sekecil
apapun syahwat yang diharamkannya.
KAIDAH: Melawan bahaya-bahaya syahwat sebelum
terjerumus kejalannya
Berhati-hatilah
–wahai hamba Allah- dari adanya bentuk kebahayaan dengan jalan mengikutinya.,
adapun bentuk kemaksiatanmu adalah jalan yang menyulitkanmu terbebas dari jalan
ini. Tetapi peliharalah dirimu selalu ketika terjatuh kepada kemaksiatan,
bertaubat kepada Allah Ta'ala dengan menghindari kemaksiatan dan berusaha untuk
tidak kembali (maksiat).
Janganlah
menjadikan maksiat sebagai jalan yang mempengaruhi jalanmu dan kepribadianmu,
maka hindarilah maksiat – didalamnya dapat mempengaruhimu dan dihiasi oleh
syetan- kepada perkara yang ma'ruf, yang
membahayakan dirimu dan yang lainnya. Tetapi dengan melawan syahwat sebelum
terjerumus kejalannya dengan mengikutinya.
KAIDAH: Jiwa yang menghindari nifak
menunjukkan adanya iman dalam hati
Bagi
setiap muslim yang terjatuh kepada kemaksiatan- diantaranya istimna'- maka jiwa
yang meghindari nifak menunjukan adanya kebaikan dalam hatinya, agar
sempurnanya kebaikan yaitu dengan menjauhi kemaksiatan ini. Maka iman dalam
hati tidak akan terjerumus kepada kenifakan dan tidak terjatuh dalam
kemaksiatan.
Setiap
muslim dianjurkan untuk menguatkan imannya, dan menjauhi pada setiap yang
membahayakan imannya dan dapat menumbuhkan syahwatnya, yang ditakutkan terjatuh
kepada keharaman. Maka iman akan terjaga darinya dan tidak kembali kepada
kenifakan kecuali setelah menjauhi kemaksiatan dan taubat nasuha.
KAIDAH: Meninggalkan dosa-dosa
dapat menenangkan jiwa dan menghilangkan kesedihan.
Istimna'
merupakan perkara yang diharamkan, dan diwajibkan bagi setiap orang untuk
membentenginya agar tidak terjatuh didalamnya, Apabila terjatuh didalamnya
hendaknya bersegera untuk bertaubat, tidak mengulanginya kembali serta
meninggalkan perbuatan yang keji itu dan menyesal dengan apa yang telah
dilakukannya.
Tidak
diragukan lagi bahwasanya meninggalkan dosa dapat menenangkan jiwa dan
menghilangkan kesedihan, sebagaimana perbuatan-perbuatan yang menjadikan jiwa lemah.
Sebagaimana Firman Allah Ta'ala dalam QS. Thoha: 123.
Hendaknya
meninggalkan dosa-dosa serta bertaubat darinya. Maka hati yang terjatuh dalam
setiap perkara yang menimpanya, yaitu
dengan bersegera menyembuhkan dan mengobatinya. Adapun ketenangan hati dengan
mengikuti perkara yang benar, sebagaimana yang menjadikan manisnya iman dengan
nikmat dan anugrah dari Allah Ta'ala.
KAIDAH: Buah dari shalat dapat
menjauhkan diri dari kekejian
Bahwasanya
buah dari sholat yaitu dapat menjauhkan diri dari kekejian dan menjauhkan dari
perkara maksiat, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam QS. Al-Ankabut: 45.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)
Kekhusuan hati
seorang hamba dan amalan anggota badannya yaitu dengan sholat. Dan sholatlah
sebagaimana sholatnya Nabi Salallahu 'Alaihi wassalam. Sholat merupakan
pengaruh yang besar dalam perbuatan seorang hamba kepada kebaikan, ketaqwaan, dan
tetap berpegang teguh kepada dien Allah Ta'ala.

