Oleh Mohammad Halim
PENDAHULUAN
Dalam wacana pluralisme agama
Jhon Hick merupakan tokoh yang terbesar dan terpenting. Karena dialah yang
paling banyak menguras seluruh tenaga
dan fikirannya untuk mengembangkan, menjelaskan
dan menginterpretasikan gagasan pluralisme agama secara massive,sehingga punya
andil yang sangat besar dalam memperkenalkannya kepada masyarakat secara secara
umum sehingga namanya menjadi lengket dengan wacana pluralisme agama[1].
Problem
problem yang ada pada gagasan Hick, penulis susun dalam beberapa bab.pertama,
problem (definisi agama menurut Hick) ,kedua,
problem (argumentasi pluralisme agama menurut Hick),ketiga, problem (teology
global dalam konsep “The real” menurut Hick).
Menurut Hick agama adalah respon manusia terhadap realitas Tuhan yang
transenden yang lain daripada kita".[2] Artinya, aneka ragam agama merupakan berbagai
aliran pengalaman keagamaan yang berbeda ,ini jelas jadi
problem bagi islam, yang tidak ragu lagi bahwa agama ini adalah wahyu. Diatas
definisi inilah dibangun gagasan pluralisme agama.
Menurut Hick pluralisme agama adalah suatu
gagasan bahwa agama-agama besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang
berbeda tentang, dan secara bertepatan merupakan respon yang beragam terhadap Yang Real dan Yang Maha Agung dari
dalam pranata kultural manusia yang bervariasi; dan bahwa transformasi wujud
manusia dari pemusatan diri menuju pemusatan Hakiki terjadi secara nyata dalam
setiap masing-masing pranata kultural manusia tersebut – dan terjadi, sejauh
yang dapat diamati, sampai pada batas yang sama.[3]
Berdasarkan defenisi di atas sangatlah jelas bahwa tidak ada perbedaan yang
esensial dan fundamental diantara agama-agama dunia.
Argumentasi
pluralisme agama menurut Hick bisa ditinjau dari berbagai aspek,diantaranya
aspek teologis,aspek sosiologis,aspek psikologis .Secara teologis Hick mencari
justifikasi dari seorang sufi kenamaan Jalaluddin Rumi yang berkata dalam satu
bait syirnya,”The light is no different,(though)the lamp has become different”(lampunya
berbeda beda tetapi cahanya tetap sama)[4]ini
jelas sebuah kutipan yang memberikan kesan berbeda dari maksud
sesungguhnya,karena difahami secara parsial.dalam bab selanjutnya akan kita
jelaskan pengertian secara komperhensif.
Secara siologis Hick
mengemukakan gagasan fortuity of birth,yang mengasumsikan bahwa manusia
beragama sesuai masyarakat dimana ia dilahirkan[5],lalu
apakah manusia disalahkan hanya karena memeluk agama masyarakatnya ,bukankah
tidak ada manusia yang mengetahui dimana dan kapan ia akan dilahirkan,ini
adalah logika hick yang menjadi problem yang juga harus dikritisi.
Hick menganggap bahwa
kebanyakan manusia masih terkungkung dengan ”teologi ptolemaik”yaitu bahwa
pengikut agama agama menganggap bahwa agama masing masing merupakan pusat dunia
agama agama dan bahwa agama agama berevolusi dan berotasi
mengelilinginya.dengan ditemukannya revolusi Copernikan dalam astronomi maka
harus pula diikuti pula dengan ”revolusi teologis”terhadap dikhotomi dunia
agama,yakni agama saya benar dan agama orang lain salah,oleh karena itu Hick
menganjurkan keharusan ”transformasi orientasi dari pemusatan agama menuju
pemusatan tuhan.[6]
Tampaknya visi baru inilah
yang menurut hick akan banyak menolong manusia modern dalam mencari solusi
solusi,yang tidak saja realistis,obyektif,rasional,tapi lebih dari itu semua,
bisa diaplikasikan dan sekaligus mengesankan[7]dalam membangun kehidupan bersama yang penuh kedamaian
,kesetaraan,toleransi timbale balik diantara tradisi agama dan budaya budaya
yang amat beragam dan saling
bertentangan.
Diatas alasan alasan inilah
selanjutnya Hick membangun teology globalnya dengan konsep “The real “,yang
menimbulkan problem bagi semua agama karena Hick menggunakan justifikasi dari
agama agama besar dunia yang ia fahami secara parsial,sehingga menimbulkan
kesimpulan yang salah pula.
Tulisan ini berusaha
mengungkap problem yang ditimbulkan oleh gagasan Hick dan sekaligus jawabannya
dari perspektif islam. untuk
memberi jawaban yang kongkrit dan tegas kepada gagasan gagasan yang juga tidak
bebas nilai, karena berangkat dari worldvew barat yang ateis. Secara singkat
dapat kita simpulkan bahwa gagasan gagasan Jhon Hick penuh dengan problem,hanya
karena adanya globalisasi dalam segala bidang dan besarnya usaha barat yang
liberal dan sekular untuk menjadi dominan dan hegemonic bahkan dalam hal
pemikiran dan dan teologi keagamaan.[8] Seakan menjadi suatu yang
sudah diterima oleh masyarakat secara umum.
PROBLEM (DEFINISI AGAMA
MENURUT JHON HICK)
Dalam banyak karya tulisnya,
Jhon Harwood Hick, lebih sering
menggunakan kata religion Dalam
banyak karya tulisnya, John Harwood Hick, lebih sering menggunakan kata [9]
yang artinya agama dari bahasa Sansakerta yang telah masuk menjadi kata Bahasa
Indonesia.[10]
Penggunaan istilah 'religion" oleh Hick, nampak terpengaruh
lingkungan dimana ia berkembang ,seperti juga
agama yang dipeluknya
Muncul pertanyaan kemudian,
apakah kata "religion atau religie" terdapat dalam kitab suci agama
di Barat sebagaimana kata "al-din" termaktub dalam kitab suci
agama Islam?. Ketika suatu istilah dipersoalkan bararti ada pemaknaan yang
krusial baik secara etemologi maupun secara terminologi. Menurut al-Attas,
istilah bahasa Arab yang tepat untuk kata 'religion' sebagaimana
dipahami di Barat dan Timur adalah millah dan bukan al-din,
karena kata al-din kaya akan pengertian tidak dibatasi dengan istilah religion
atau agama saja.[11]
Dari pergumulan spiritual , Hick mengulang
kembali kata-kata Claude di Jewish Quarterly Review tahun 1895, sebagai
pengantar dalam memberikan kuliah tahunan yang ke 27 mengenang Claude Goldsmid
Montefiore, di depan umat Yahudi di Sinagog, "Banyak jalan menuju Tuhan,
dan dunia ini telah sangat kaya dengan berbagai jalan tersebut, sesuatu yang
bukan hal baru lagi."[12] Pernyataan radikal ini yang
dikutip oleh Hick tidak terlepas dari pengaruh ajaran tentang kesatuan asasi
dari agama-agama besar, yang merupakan suara agama Hindu.[13]
Menurutnya Hick, religion
adalah "respon manusia terhadap realitas Tuhan yang transenden yang lain
daripada kita".[14] Artinya, aneka ragam agama
merupakan berbagai aliran pengalaman keagamaan yang berbeda di mana
masing-masing bermula pada episode yang berbeda dalam sejarah manusia yang
kemudian memekarkan kesadaran logis di dalam sebuah ruang kebudayaaan.[15]
Berdasarkan defenisi di atas sangatlah jelas
bahwa tidak ada perbedaan yang esensial dan fundamental diantara agama-agama
dunia. Oleh sebab itu, John Hick kemudian menyimpulkan semua tradisi atau agama
yang ada di dunia ini adalah sama validnya, karena pada hakekatnya semuanya itu
tidak lain hanyalah merupakan bentuk-bentuk respon manusia yang berbeda
terhadap sebuah realitas trasenden yang satu dan sama. Dengan demikian,
semuanya merupakan “authentic manifestations of the real”.
Ringkasnya, semua agama secara relatif adalah sama, dan tidak ada satu pun
agama yang berhak mengklaim “uniqueness of truth and salvation”
(sebagai satu-satunya kebenaran atau satu-satunya jalan menuju keselamatan).[16]
Pengertian seperti itu tentu bertentangan
dengan islam,diantara yang menjadi bukti adalah
fi’lal-Rasul yang
telah menjadi fakta histories, ternyata beliau melakukan dakwah kepada pemeluk
agama-agama lain selain Islam, tentunya tanpa sedikitpun dicampuri unsur
pemaksaan. Andaikan pluralisme agama itu
betul tentunya Nabi Muhammad tidak akan susah-susah melakukan dakwah kepada
pemeluk agama selain Islam. Nabi Muhammad juga akan menjadi orang pertama yang
mendakwahkan bahwa semua agama adalah benar dan pemeluknya masuk surga[17]
Apa yang diungkapkan Hick tentang agama jelas
berbeda dengan konsep al-din dalam islam karena konsep al- din menurut islam diwahyukan Tuhan secara tanzil
berbeda dengan konsep religion yang bersumber pada social budaya manusia.
Al-din secara terminology berarti, al-Jaza' wa al-Mukafaah (pahala),
al-Qadla'(ketentuan), al-Malik/ al-Muluk wa al-Sulthan (kekuasaan), aTadbir
(pengelolaan); al-Hisab (perhitungan).[18]
Berdasarkan ayat-ayat al-Qur'an, KH. Moer nawar Cholil, mencatat arti al-din
yang berakar dari kata kerja "daana-yadienu-" sebanyak sepuluh makna[19]; diantaranya,
al-tha'ah (kepatuhan), menunggalkan ketuhanan, nasehat dan cara atau adat
kebiasaan.
Kita ambil satu makna al-din yang
mencakup keseluruhannya, adalah al-tha'ah, kepatuhan. Dengan arti ini, kata
al-din memiliki dua sisi yang berlawanan, satu sisi yang bersifat positif dan
sisi lain bersifat negatif.[20] Sebab sebagai disebutkan
dalam beberapa kasus makna secara terminologi, al-din berarti kekuasaan yang
menggunakan kekuatan superiornya untuk menundukkan pihak lain, maka dari sisi
positifnya berarti bermakna menekan. Pada sisi lain, pihak lain secara negative
bermakna menyerah, patuh dan tunduk kepada yang berkuasa, atau pihak lain
berlindung di bawah kekuasaannya. Hal ini nampak jelas dalam surah Yusuf, ayat
76 dengan istilah " fi dienil malik"[21], para sahabat memaknai
istilah dengan "fi sulthaanil malik, fi hukmil malik dan fi qadhail
malik"[22] istilah itu artinya adalah
"menurut undang-undang raja"
Dengan demikian, konsep al-din dari
keterangan tersebut mencakup " al-Tha'ah "( kepatuhan) dan
"al-Sulthaan"(kekuasaan) Apabila konsep ini dipadukan dengan surah
XVI ayat 52,[23] berarti " kepatuhan
yang sungguh-sungguh" dan "pemerintahan mutlak" Dalam ayat ini tergambar suatu keharusan yang
tak dapat ditawar "kepatuhan yang sungguh-sungguh" itu harus datang
dari makhluk, termasuk manusia, dan pemerintahan muthlak itu milik
Tuhan Allah Satu Yang Abadi.
Selanjutnya, makna "kepatuhan yang sungguh-sungguh" dari al-din ini
dipertemukan dengan surat X, ayat 104[24], yang terdapat kata "’abada",
kata al-din akhirnya dapat didifinisikan " menyembah Allah" dalam
pengertian "mengabdi kepada-Nya sebagai hamba yang hina yang mematuhi
sayyidnya.[25]
Singkatnya definisi al-din
terdiri dari keyakinan (iman) sebagai kepatuhan batin dan perbuatan (amal)
sebagai kepatuhan lahir yang secara teoritis
al-din mengajarkan konsepsi ketuhanan dan seperangkat aturan praktis
yang mengatur aspek ritualnya atau submissionnya, demikian menurut Dr. Muhammad
Abdullah Darraz[26] dan Prof. Dr. SMN. Al-Attas.[27]
PROBLEM( ARGUMENTASI PLURALISME
AGAMA MENURUT JHON HICK)
A. Aspek teologis jhon hick
Dalam kaitannya dengan aspek
teologis ini Hick mengemukakan(saat menyampaikan kuliah pada Institute for
Islamic Culture and Thought, Tehran, February20050)[28] kata kata hikmah dari
seorang sufi kenamaan,Jalaluddin Rumi yang berkata dalam salah satu bait
syairnya yang ditulis dalam Al-Matsnawi
menurut terjemahan R.A Nicholson yang juga dirujuk oleh Hick: “The light is no
different,(though)the lamp has become different”(cahaya tidaklah
berbeda,meskipun lampunya berbeda).[29]Kemudian bait ini diadaptasi
oleh Hick secara bebas dan out of context menjadi “The lamps are different,but
the light is the same(lampunya berbeda beda tetapi cahayanya tetap sama.)
Ini dari satu
sisi,darisisilain ,ucapan Maulana Al-Rumi tersebut yang dinikil hick secara
interpolatf(muharraf),meskipun nampaknya tidak mengganggu
ma’nanya,adalah terputus dari konteksnya(Out of cotext),seperti
yang telah dibuktikan dimuka.Maka jika ucapan tersebut diletakkan pada
konteksnya yang sempurna maka artinya akan jelas bahwa sama sekali tidak akan
dapat menjustifikasi pluralism Hick yang reduksionistik itu,Sebab setelah
ucapan itu Al-Rumi berkata “ From
the place(object) of vew O( thou who art the) kernel of existence,there arises
the different between the true believer and the Zoroastrian and theJew( dari pemandangan yang obyektif ,wahai yang
maha wujud lahirlah perbedaan antara yang beriman dengan Zoroasrian dan yahudi.[30]
Disamping itu sikap Al-Rumi terhadap pluralism agama semakin jelas dan tegas ketika
menjawab seorang lawan bicaranya yang beragama kristen ,yaitu Al-Jarrah,yang
beralasan bahwa kekristenannya ini disebabkan karena orang tuanya beragama
Kristen,Al-Rumi menjawab ” That is not the action or the
word of intelligent man possessed of sound senses ,God gave an intelligence of
your own other than your father’s intelligence, a sight of your own rather than
your father’s sight, a discrimination of your own. Whay do you nullifay your
sight and your intelligence,following an intelligence which will destroy you
and not guide you.[31] Itu
bukanlah tindakan atau ucapan orang yang cerdik yang memiliki perasaan sehat
.Tuhan memberimu akal yang sesuai untukmu
sendiri dan yang berbed dengan akal ayahmu, sutu penglihatan yang sesuai
untukmu dan yang berbeda dengan penglihatan ayahmu,kenapa kamu menyia nyiakan
akal dan penglihatanmu,sementara kamu mengikuti akal yang akan merusakmu dan
menyesatkanmu.
Selanjutnya
Al-Rumi menjelaskan “Tentu saja benar bahwa ia harus mengatakan bahwa Tuhannya
Isa a.s telah memulyakannya denga membawanya dekat denganNya,sehingga siapa
saja yang melayaninya berarti melayani tuhan ,dan siapa saja yang mentaatinya
beraarti mentaati tuhan,akan tetapi selama Tuhan telah mengutus seorang nabi
yang lebih utama daripada Isa,dengan menampakkan kekuasaanNya di tangannya
seperti bahkan lebih dari pada,yang ditampakka-Nya lewat tangan Isa, maka hal
ini memaksanya untuk mengikuti nabi itu karena demi Tuhan,dan bukan demi nabi
itu sendiri.[32]
B.
Aspek sosiologis
Secara siologis Hick mengemukakan gagasan
fortuity of birth(ketidak sengajaan kelahiran),yang mengasumsikan bahwa manusia
beragama sesuai masyarakat dimana ia dilahirkan[33],lalu apakah manusia
disalahkan hanya karena memeluk agama masyarakatnya ,bukankah tidak ada manusia
yang mengetahui dimana dan kapan ia akan dilahirkan.Bahwa seseorang lahir dari
kedua orang tua yang beragama islam ata Kristen atau yahudi ayau hindu atau
budha ata kebatinan atau komunis atau ateis dn sebagainya ,itu semata mata
factor kebetulan yang murni. Oleh karena itu dapat dikatakan jati diri
keagamaan seseorang secara umum sangat ditentukan oleh lingkungan dimana ia
dilahirkan.Misalnya seseorang dilahirkan di India hampir dapat dipastikan akan
beragama hindu,yang dilahirkan di Arab Saudi akan beragama islam,yang
dilahirkan di Roma akan beragama katolik,dan seterusnya.Realitas ini Imerupakan
fenomena universal,dan dari sinilah Hick menyatakan “Teologi agama apapun yang
kredibel,haruslah benar benar mempertimbangkan factor lingkungan(situasi dan
kondisi)[34].
Oleh karena itu Hick
mengemukakan gagasan pluralisme agama yang berdasar pada teologi global. Dalam
Hal ini islam jelas menolak gagasan Hick,sebagaimana yang dikatakan Al-Rumi kepada
Al-Jarrah,yang beralasan bahwa
kekristenannya ini disebabkan karena orang tuanya beragama Kristen,Al-Rumi
menjawab ”Itu bukanlah tindakan atau ucapan orang yang cerdik yang memiliki
perasaan sehat .Tuhan memberimu akal yang sesuai untukmu sendiri dan yang berbed dengan akal ayahmu,
sutu penglihatan yang sesuai untukmu dan yang berbeda dengan penglihatan
ayahmu,kenapa kamu menyia nyiakan akal dan penglihatanmu,sementara kamu
mengikuti akal yang akan merusakmu dan menyesatkanmu.
Islam
menghendaki bahwa manusia menggunakan akal yang dapat membedakan antara yang
baik dengan yang buruk,antara yang hak dg yang batil.sebagaina yang terjadi
pada kisah Salman Al-Farisi yang rela meninggalkan istananya mencari
kebenaran,beliau tidak lantas tinggal diam terhadap keadaan yang tidak sesuai
dengan batinnya. Beliau menggunakan telinga untuk mendengar
kebaikan,menggunakan mata untuk melihat kebaikan,menggunakan kaki untuk mencari
kebaiakan,menggunakan akal untuk untuk memmbedakan antara yang hak dengan yang
batil.Kalaulah manusia zaman postmodern ini mau menggunakan potensi akalnya
untuk mencari pembuktian tentang kebenaran sutu agama dingan jiwa ayng
tulus,pasti akan mendaptkan islam sebagai satu satunya agama yang hak,yang datang
dari pencipta alam semesta.kebenaran itu bisa ditinjau dari otentitas kitab
sucinya,konsep ketuhanannya,keadilannya dalam memandang kedudukan
manusia,konsep akhlaqnya,keseimbangannya dalam memandang kehidupan dunia dan
kehidupan sesudah mati,Dari poin poin diatas kalau dibandingkan dengan semua
agama yang lain pasti manusia berakal akan berkesimpulan,islamlah agama yang
sesuai dengan fitrah manusia, islamlah gama yang diturunkan oleh tuhan alam semesta. Adapun usulan Hick tentang
agama baru yang bernama pluralisme agama yang dibangun diatas dasar teologi
global adalah agama bikinan manusia yang tidak dapat menjamin keselamatan baik
di dunia apalagi di akherat.
PROBLEM
KONSEP “THE REAL” DALAM GLOBAL TEOLOGI
Selain argument argument yang
telah disebutkan diatas sebagai landasan bagi berpijaknya gagasan pluralisme
agama yang ia usulkan, Hick juga
melontarkan gagasan the transformation from religio-centredness to
God-centredness (transformasi dari pemu satan agama menuju pemusatan Tuhan)
Sejatinya tesis merupakan hasil dari penafisran Hick melalui model Copernican
Revolution,[35] yang menemukan
"sentralitas matahari" dalam galaksi kita sebagai ganti planit bumi
yang dahulu, apa yang disebut Ptolemaic astronomy[36]. Gagasan ini terdiri dari
pokok bahasan yang saling berkait, yakni konsep agama dan konsep Tuhan. Lalu ia
mengembangkan kedua konsep dengan menggunakan "revolusi Smithian"
yang dikombinasi dengan "revolusi Kantian", kemudian menafsirkan
hubungan antar kedua konsep ini berdasarkan model revolusi Copernican"[37]
Frase yang digunakan Hick untuk
menjelaskan gagasan ini adalah "the transformation from self-centredness
to Reality-centredness, transformasi dari pemusatan diri menuju pemusatan
Realitas". Perlu dicatat bahwa Hick mengikuti "kacamata
Smithian" yang digunakannya untuk melihat fenomena agama, dengan
kejeliannya, ia menggunakan kata "self" sebagai peng ganti
"religion" .Sebagaimana dikatakan Smith
Dalam bukunya yang lain, Hick
menamakan proses trans formasi dari diri menuju Realitas dengan istilah
self-transcendence, transendensi diri radikal dalam berbagai bentuknya.[38] Artinya secara praksis,
proses transformasi ini terjadi pada diri semua manusia secara sama dan
seragam, tidak ada perbedaan yang prinsipil antara yang satu dengan yang lain
dalam berbagai konteks keagamaan. Persaman tersebut mulai dari respons yang
negative, tertutup dan eksklusif, sampai respons yang positif, terbuka terhadap
eksistensi ketuhanan yang dapat menggeser dan menaikkan derajat dan level
spiritual seseorang sedikit demiki sedikit dan secara gradual menuju eksistensi
ketuhanan tersebut.[39] Dengan demikian suatu
keharusan lahir nya "revolusi teologis" terhadap dikhotomi dunia
agama, artinya tidak relevan lagi mempersoalkan salah benar terhadap
agama-agama.
Pandangan ini tentu tidak
dapat menjadi agama dunia, tapi ia dapat menjadi pendekatan terhadap teologi
dunia. Sebab jika kesadaran tentang Realitas Transenden yang kita sebut
"Allah" tidak terbatas pada tradisi Kristen, kemungkinan terbuka
untuk apa yang dapat kita sebut teologi global. Secara analogis, teologi global
akan terdiri dari teori-teori atau hipotesis-hipotesis yang dirancang untuk
menginterpretasikan pengalaman religius umat manusia ketika terjadi tidak hanya
di dalam agama Kristen tetapi juga di dalam aliran-aliran besar lain dalam
khidupan agama, terutama tradisi-tradisi non-Teistik,[40] dan juga di dalam keyakinan
non-religius yang besar.[41]
Kemudian, bagaimana Hick
membangun Global Theology- nya tentang konsep Tuhan yang merupakan doktrin
pokok agama-agama besar dunia ? Dalam problema wahyu, Hick sebagai mana
dijelaskan di atas menggunakan epistemologi Thomas Aquinas ‘(Things known are
in the knower according to the mode of the knower’ )dan dalam problema konsep
Tuhan, Hick mengikuti epistemology Kantian.[42] Sebelum melacak tesis
teologi global dengan epistemologi
Kantian, Hick memberi illustrasi tentang kehidupan religius dalam
tradisi-tradisi dari semua agama.
Kita adalah sekelompok orang yang
berbaris menuruni satu lembah yang panjang, menyanyikan lagu kita sendiri, me-
melihara semboyan dan cerita kita sendiri selama berabad-abad, tidak peduli
bahwa di balik bukit ada lembah lain dengan seke- lompok orang agung lainnya
yang berbaris dengan tujuan yang sama tetapi telah berabad-abad mengembangkan
gagasan, ce- rita, nyanyian dan bahasa mereka sendiri; dan di balik bukit yang
lain walapun ada sekelompok barisan lainnya masing-ma sing tidak mengetahui
tentang keberadaan yang lain. Kini me- reka semua muncul di dataran yang sama,
dataran yang dicip takan oleh komunikasi global modern sehingga bisa melihat sa
tu sama lain serta ingin tahu apa yang sama-sama dilakukan.[43]
Pada tataran ini kita memperoleh
informasi bahwa di dunia banyak agama; Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha,
Tao dan Konfusius, yang sama-sama punya pengalaman ke-Ilahi-an dalam perbedaan.
Ketika kita mengunjungi berbagai
tempat ibadat, kita akan menemukan para pemeluk agama datang ke tempat ibadat
ma sing-masing untuk membuka pikiran mereka terhadap Realitas yang lebih
tinggi, yang dipikirkan sebagai pencipta dan Raja alam semesta, dan sebagai
pencipta moral yang sangat diperlukan dalam kehidupan tiap laki-laki dan
wanita. Tentu saja pelaksanaaannya berbeda-beda. Yang lebih penting, wujud
tertinggi dikenal sebagai Tuhan di Gereja Kristen, sebagai Adonai (Yahweh) di
Sinagog Yahudi, sebagai Allah di Masjid orang Islam, sebagai Ekoamkar di
Gurdwara Sikh, sebagaai Rama atau Krishna di Kuil Hindu. Tetapi ada satu
pengertian penting dimana apa yang sedang dilaksanakan dalam beberapa bentuk
pemujaan pada dasarnya sama.[44]
Pada dasarnya sama, dalam artian
bahwa ada kesamaan fenomenologis dari pemujaan dalam tradisi yang berbeda-beda
ini, kita harus menanyakan apakah orang-orang di Gereja, di Sinagog, di Masjid,
di Gurdwara, dan Kuil sedang memuja Allah yang berbeda atau sedang memuja Allah
sama ?[45] Apakah Adonai dan Allah,
Allah dan Ekoamkar, Rama dan Khrishna adalah tu -han -tuhan yang berbeda, atau
apakah nama-nama yang berbeda ini untuk Wujud terakhir yang sama ?. Untuk
menjawab ini, Hick menggunakan epistemology Kantian. Bagaimana sejatinya
epistemologi Kantian diaplikasikan oleh Hick relasinya dengan konsep Tuhan.,
Dalam hal ini, Hick mengikuti Kant yang membedakan antara "noumenon (
thing an sich, atau thing as it in itself, yakni sesuatu sebagimana adanya) dan
phenomenon (thing as experiented by human being, yakni sesuatu sebagaimana yang
dialami oleh manusia). Hick kemudian mengaplikasi perbedaan ini pada konsep
"Tuhan" walaupun Kant sendiri tidak berminat melakukannya karena akal
manusia terbatas.[46] Namun menjadi keyakinan kuat
bagi Hick untuk membangun teori pluralisme agama-nya di atas pijakan
epistemology Kant ini. Maka untuk menghindari problem linguistic gender dan
tetap menjaga netralitas, serta untuk mengakomodasi kedua konsep Zat yang
paling Agung (personal dan impersonal)[47],Hick memilih terminology The
Real (zat yang Nyata)[48] Kemudian ia bedakan antara
"the Real an sich" atau "the noumenal Real") Zat Yang Nyata
sebagaimana adanya) dan "the phenomenal Real" ( Zay Yang Nyata
sebagai mana yang tampak oleh manusia melalui kaca mata tradisi dan agama yang
berbeda-beda). Dalam buku "God Has Many Name", Hick menggunakan
istilah " The Eternal One" ( Satu Yang Abadi).[49] Kita dapat membedakan antara
nomena (noumenon) Tuhan Yang Tunggal, yakni Satu Yang Abadi dalam kediriannya
yang melebihi lingkup bahasa dan pikiran manusia di satu sisi dan pada sisi
lain pluralitas fenomena (phenomena) Tuhan, personal Tuhan dari agama-agama
Teistek dan peng-kontret-an konsep absolute dalam agama-agama non-teistek. Jadi
konsep Tuhan dalam paham pluralisme agama adalah The Real an sich tanpa nama
yang bersifat absolute dan tunggal sebagaimana adanya. Adapun konsep Tuhan
dalam agama-agama dunia selama berabad-abad disembah itu adalah The phenomena
Real adalah Tuhan-tuhan yang dikonsepsikan dan diekspresikan oleh budaya
manusia itu plural, jumlahnya banyak dan bersifat relatif. Meminjam istilah
Paul F Knitter dalam No Other Name ? A Critical Survey of Christian Attitudes
towards the World Religion, (1985), bahwa all religions are relative (semua
agama sebagai jalan menuju Tuhan adalah relative) tetapi sekaligus all are es
sentially same ( semua secara essensi sama).[50]Artinya, manusia sampai saat
ini menyembah Tuhan yang tercipta oleh kesadaran kognitif para tokoh agung itu
sendiri, dan begitulah kemusyrikan yang tak terbayangkan itu terus berlanjut
sampai hari ini. Lalu bagaimana dengan konsep Tuhan dalam agama Islam,
apakah merupakan konsepsi Nabi Muhammad
saw ?
Konsep Tuhan Dalam Islam
Mencari Tuhan selain Allah
adalah palsu, demikian nasihat sufistik Syeikh Abdul Qadir al-Jailani.[51] Kata "Allah"
sedemikian dalam faham Tawhid Mu'tazilah[52] merupakan Zat
Yang Esa dengan nafy al-shifat pada zat-Nya, Apakah nama Allah itu hasil
tanggapan kesadaran kognitif Wasil bin Atha'(81-131 H), Abu al-Huzail al-'Allaf
(135-235 H), Abu al-Husain ibn Abi 'Amr al-Khayyat (wa. 300), atau dalam faham
asy'ariyah, Abu al-Hasan 'Ali ibn Isma'il al-'Asy'ari(260-330), Abu Bakr al-Ba
qillani, Abd al-Malik al-Juwaini(417-478H), Imam al-Ghazali(1058-1111M) atau faylusuf muslim antara lain; al-Kindi (185
H/801 M), Al-Ra zi(251-313H/865-925 M), al-Farabi (257-337H/870-950 M),[53] terhadap Tuhan "The Real an sich atau
The Eternal One an sich " sebagai disinggung dalam ide teologi global John
Hick di atas?
Apa yang diketahui oleh akal tentang
Tuhan tidaklah sejelas apa yang diketahui melalui Tanzil.[54]Berbagai agama mucul karena
perbedaan faham, menurut Hick, dalam menanggapi dan merespon Satu Yang Abadi,
dan bersamaan dengan itu timbul konflik antar umat beragama, maka jalan
keluarnya John Hick mengusulkan ide pluralisme agama yang terbungkus di
dalamnya Ide Teologi global. Kemampuan akal itu sangat terbatas. Maka Allah
menurunkan wahyu kepada Nabi untuk mengoreksi yang salah dan menjelaskan yang benar. Oleh karena itu, pengetahuan
tentang Tuhan dalam konsep para teolog dan faylusuf muslim bukan hasil olah
otak mereka namun melalui tanzil, wahyu seperti dalam firman berikut ini :
يموسي
إنى ربك فاخلع نعليك إنك بالواد المقدس طوي و انا اخترتك فاستمع لما يوحى إننى أنا الله لآ إله إلآ
أنا فاعبدنى وأقم الصلوة لذكرى (20: 12-14)
Dalam surah pada ayat yang tergaris
dibawahnya, Tuhan swt memperkenalkan diri Zat-Nya dengan nama
"Allah"yang wajib disembah dan jangan mencari sesembahan lain selain
Dia. Para teolog dan faylusuf muslim tersebut di atas hanya menjelaskan apa yang
sudah diwahyukan kepada nabi-nabi dan rasul-ra sul Allah swt bukan hasil
tanggapan kesadaran religius mereka tatkala membuka hati mereka bukan membuka
pikiran seperti apa yang diistilahkan oleh John
Hick. Dengan demikian para teolog dan faylusuf dalam Islam tidak mencari
konsep Tuhan baru sebagai yang dilakukan pikiran liar John .Firman Allah swt.
ما تعبدون من دونه إلا أسمآء سميتموهآ أنتم و
أبآؤكم ما أنزل الله بها من سلطان إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه ذلك
الدين القيم و لكن أكثر الناس لا يعلمون (يوسف :40)[56]
إن هي إلا أسمآء سميتموهآ أنتم و أبآؤكم ما أنزل
اللله بها من سلطان, إن يتبعون إلا الظن و ما تهوي الآنفس , و لقد جآءهم من ربهم
الهدي (ألنجم :23)[57]
Berdasarkan ayat 19-20 dari
surah an-Najm,nama-nama berhala yang disembah oleh musyrikun Makkah adalah
al-Lat, al-'Uzza dan al-Manat dalam agama paganisme dan agama budaya seperti yang didefinisikan oleh
John Hick. Tuhan itu punya banyak na ma,
menurut istilah Hick ,tidak punya sandaran yang valid kecuali warisan dari
nenek moyang yang batil dan bukan berdasar kan petunjuk dari Allah, justru
petunjuk yang dibawa oleh para nabi dan
rasul ditolak.[58] Maka menurut pengertian
dalam ayat 40 dari surah Yusuf itu, manusia diperintahkan menyembah Allah
semata bukan kepada lainnya." Demikianlah, karena sesungguhnya Allah
,Dialah Tuhan yang sebenarnya dan apa yang mereka seru selain Allah adalah
batil. Dan Sesungguhnya Allah Mahatinggi, Mahabesar".[59]
Allah, dalam pandangan Abdul Ahad
Dawud(nama Islam), mantan pastor Katolik Roma itu, adalah nama kuno dalam
bahasa semit untuk menyebut Zat Yang Nyata dan Zat Yang Mahatinggi atau Satu
Yang Abadi (The Real, The Ultimate dan The Eternal One, dalam istilah Hick)
yang menurukan wahyu dan berbicara
kepada Adam dan semua nabi. Pendapat Romo ini secara tegas menolak akal liar
John Hick, bahwa Tuhan tidak bicara dan tidak pernah berbicara dengan manusia
terbantah kan. Siapakah Allah itu ? Abdul Ahad Dawud persis seperti para teolog
dan faylusup muslim yang disebut di atas, Allah itu adalah satu-satunya Zat
Yang Ada, Maha Mengetahui, dan Maha Perkasa. Dialah sumber kehi dupan,
pengetahuan dan kekuatan. Allah adalah Pencipta, Pengatur dan Penguasa jagat
raya. Dialah Yang Maha Esa, Hakikat dan Zat Allah tidak akan bisa dipahami manusia
dan karena itu usaha apapun untuk mendefinisikan hakikat-Nya bukan hanya akan
sia-sia melainkan juga berbahaya bagi kesehatan jiwa dan imannya karena hanya
akan membawa pada kesesatan.[60]
Dengan hadirnya Romo David Benjamin
Keldani[61] yang lahir dalam lingkungan
Kristen dan Margaret Marcus dari keluarga Yahudi, Marmaduke Pckthal, Muhammad
Asad, T.B. Irving dan lain[62], telah mendapat Hidayah
Allah, mereka kembali ke teori "Ikrar Primordial"nya Fazlur Rahman[63] dan Perjanjian dalam istilah
al-Attas[64] dan Ahmad Bahjat[65] Mereka itu berislam dan
secara implicit menjawab fortuity of birth
yang menjadi landasan teori pluralisme agama John hick. Artinya
kesejatian keagamaan manusia merupakan kencederungan awal sejak dalam kandungan
ibunya bukan factor lingkunganya.
"Ingatlah ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian atas jiwa mereka (seraya berfirman); "Bukankah Aku ini Tuhan
kali an?" Mereka menjawab :" Benar, kami bersaksi bahwa Engkau Ya
Allah Tuhan kami".[66]Ikrar Primordial ini menjadi
bekal manusia pertama dan utama dibawa lahir ke dunia sebagai fitrah beragama.
Pertanyaannya kemudian bolehkah kita sebagai anak berbeda dengan orang tua
dalam masalah ushuliyah yang bersifat permanent atau tsawabit ? Allah menjawab
dalam firman-Nya berikut ini:
و إن جاهداك على أن تشرك بي ما
ليس لك به علم فلا تطعهما و صاحبهما في الدنيا معروفا (لقمان : 15)
Bagi mereka tantangan yang berat, pertama
datang dari dalam keluarga, teman sebaya dan masyarakat umum.[67] Itulah harga yang harus
dibayar di dalam mencari kebenaran agama sejati seperti yang dicontohkan Nabi
Ibrahim as.
و إذ قال إبرهيم لآبيه آ زر
آتتخذ أصناما آلهة أنى أراك و قومك قي ضلال مبين ( الانغام : 74)
Dalam masalah aqidah Islamiyah, Islam
tidak ada kata kompromi dan toleransi sebagaimana dicontohkan sikap tegas
terhadap orang orang yang hendak membelokkan wajah kita dari Allah kearah
Tuhan-tuhan agama social-budaya seperti apa yang dipraktekkan oleh John hick
tokoh Pluralisme agama. Dan tokoh-tokoh pluralis Indonesia belum ada kasus tapi
masih terbatas pada hal perkawinan beda agama sudah ada cermin pada diri
pluralis yang disebut-sebut Natsir
Muda, pendudung pluralisme agama. Tapi
kita sebagai muslim sejati menurut Abu Hanifah menjadi keniscayaan untuk
meneladani Rasulullah saw dan Nabi Ibrahim as. dan pernyataan sikap Nabi ini
menjadi pernyataan umat islam sedunia dalam sholat limat waktu.
إنى وجهت وجهى للذي فطر
السموات و الارض حنيفا وما أنا من المشركين ( الانعام : 79)
Berdasarkan konsep Tuhan dalam Islam seperti
yang dipaparkan oleh Abdul Ahad Dawud, matan pastur Katolik Roma dapat
diaplikasikan dalam teologi global-nya John Hick dengan model Kantian, maka The
Real an sich atau The Eternal One ( Zat yang Nyata atau Satu Yang Abadi
sebagaimana adanya adalah Allah swt. Sedang
The phenomenal Real atau The phenomenal Eternal One ( Zat yang Nyata
atau Satu Yang abadi sebagaimana tampak oleh manusia melalui kacamata-kacamata
tradisi dan budaya yang berbeda-beda) itu adalah Tuhan agama-agama budaya (
Natural Religion ) dan Tuhan aliran kepercayaan atau Tuhan aliran kebatinan .
Tuhan kepercayaan inilah yang oleh Ibn al-'Arabi disebut "Ilaah
al-Mu'taqad atau al-Haqq al'Itiqaady atau al-Haqq al-Makhluuq fi
al-I'tiqaad",[68] tidak termasuk konsep Tuhan
dalam Islam. Dan Tuhan dalam Islam tunggal dan bersifat absolute, karena konsep
Tuhan Allah diwahyukan dan Islam sebagai al-din pun ditanzilkan bukan muncul
dari social-budaya manusia. Karena itu merupakan keniscayaan mengglobalisasikan
istilah al-din daripada religion atau agama bagi setiap muslim. Dan adalah
shohih apa yang dinyatakan oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani, siapa yang
mencari dan menyembah Tuhan selain Allah adalah palsu alias musyrik dan kafir.
KESIMPULAN
Gagasan pluralism agama dimunculkan,sebenarnya
ditujukan untuk menjadi solusi bagi kehidupan modern yang dilanda derasnya arus
globalisasi yang dipicu oleh ledakan revolusi teknologi informasi, peran dan
fungsi agama mulai ditantang. Tantangan yang seringkali dibebankan kepada agama
adalah dalam menyelesaikan konflik dan perilakukekerasan, sebab agama sering
dikaitkan dengan terjadinya pelbagai ketegangan dan kerusuhan. Ini sebenarnya
tidakfair, sebab faktor-faktor dominan yang terjadi di lapangan seperti
kesenjangan ekonomi dan sosial, penindasan,ketidakadilan dan lain malah
dikesampingkan,
Alih alih gagasan pluralisme
agama dapat menjadi solusi yang menengahi konflik antar agama pada era
glibalisasi saat ini,bahkan menambah masalah baru yang mengancam eksistensi seluruh
agama yang ada,faham pluralisme menjadi arogan dengan mengaku bahwa dirinyalah
yang paliang benar.Sebenarnya islam telah member solusi dalam masalah ini dengan
adanya toleransi antar umat beragama sebagaimana yang pernah terjadi di madinah
pada zaman Rosulullah dengan adanya piagam madinah,inilah yang disebut oleh Anis
Malik Toha dengan solusi praktikal administrative,bukan solusi teologis,karena
konsep teologis dalam islam sudah final sejak berhentinya tanzil.
John Hick, salah satu tokoh
terpentingnya, memperkenalkan konsep pluralisme agama dengan gagasannya yang ia
sebut global theology. Selain Hick diantara tokohnya adalah Wilfred Cantwell
Smith, pendiri McGill Islamic Studies. Tokoh-tokoh lain dapatdilihat dari karya
Hick berjudul Probblems of Religious Pluralis.
Jhon Hick memahami bahwa agama adalah 'religian' dari
sudut social-budaya, yang berarti beragama merupakan unsur kebudayaan, dan
suatu keniscayaan bersikap toleran terhadap budaya agama lain bahkan dibuktikan
dengan ikut-serta dalam peribadatannya. John Hick sebagai tokohnya
mendefinisikan 'religion' dari aspek esoterik yang secara sama dimiliki oleh
semua tradisi agama-agama dunia. Hal ini jelas berbeda dengan istilah al-din
dalam Islam yang secara tanzil mencakup dua aspek; baik aspek esoteric maupun
aspek eksoterik.
Dalam memperkuat gagasannya
tentang pluralism agama Hick juga mencari
justifikasi dari sumber agama ,tetapi justru menampakkan kelemahan
teorinya,karena ternyata jusrtu ditolak oleh
masing masing pemeluk agama yang bersangkutan,diantaranya Hick
menggunakan ungkapan rumi dalam “Al matsnawi” disisni sangat tampak bahwa Hick
tidak menguasai apa yang ia tulis sendiri.Tapi sayangnya cara yang tidak fair
ini justru diikuti oleh para pengusung pluralisme agama yang lain,tidak
ketinggalan pula dari orang islam yang yang menafsirkan ayat ayat Al- Qur’an
yang sesua dengan keiinginan mereka ,yaitu dipaksakan untuk mendukung plurlisme
agama,tapu tentunya orang orang terpelajar muslim sangat faham sekali dimana
letak kesalahan penafsiran mereka.
Hick juga mencari argumentasi
secara sosiologis,ia mengemukakan gagasan ‘fortuity of birth”tapi sayang
gagasan ini justru ditumbangkan oleh Jalaluddin Rumi dalam dialognya dengan
orang Kristen yang bertanya kepadanya,apakah ia disalahkan jika mengikuti agama
kedua orang tuanya dalam masalah beragama,langsung dijawab oleh Al-Rumi dengan
pertanyaan lain,”bukankah kamu diberi mata yang berbedsa dg mata orang tuamu.
Berdasarkan perkembangan
global ini,Hick memprediksi bahwa secara gradual akan terjadi converging
courses (proses corvergensi cara cara beragama) dimasa yang akan
datang,sehingga pada suatu ketika agama agama ini akan lebih menyerupai sekte
yang beragam dalam Kristen di Amerika utara atau eropa saat ini daripada
merupakan entitas entitas yang eksklusiv secara radikal.
Hick memandang bahwa Tuhan dengan
The numenon Real ( Tuhan yang Nyata sebagaimana adanya) tidak dapat dibahasakan
dengan bahasa manusia yang terbatas. Artinya, yang serba terbatas mustahil bisa
memahami yang tak terbatas yakni Tuhan yang bersifat absolute. Sedang Tuhan
dengan The phenomena Real ( Tuhan yang nampak bagi dan dalam konseptual manusia
menurut budaya mereka masing-masing, ia adalah Tuhan yang diciptakan atau Tuhan
dalam konsepsi manusia, maka bersifat relative.
Konsep Tuhan dalam Islam adalah
tanzil dari Allah langsung dan tidak benar Tuhan Allah disamakan dengan
Tuhan-tuhan agama-agama itu. Konsep Tauhid
bukan saja monoteistik, sebab padanya harus ada factor keikhlasan untuk
mengikuti submission yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Konsep monoteistik
yang menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad saw tidak dapat ditolerir bisa saja,
dari satu sisi. Pada sisi lain Agama Tauhid (Islam) secara tegas tetap mengakui
pluralitas bukan pluralime agama
Berdasarkan konsep Tuhan dalam Islam seperti
yang dipaparkan oleh Abdul Ahad Dawud, matan pastur Katolik Roma dapat
diaplikasikan dalam teologi global-nya John Hick dengan model Kantian, maka The
Real an sich atau The Eternal One ( Zat yang Nyata atau Satu Yang Abadi
sebagaimana adanya adalah Allah swt. Sedang
The phenomenal Real atau The phenomenal Eternal One ( Zat yang Nyata
atau Satu Yang abadi sebagaimana tampak oleh manusia melalui kacamata-kacamata
tradisi dan budaya yang berbeda-beda) itu adalah Tuhan agama-agama budaya (
Natural Religion ) dan Tuhan aliran kepercayaan atau Tuhan aliran kebatinan.
Dalam mengakhiri bahasan ini
baiklah kita tuliskan konsep tuhan menurut Prof. Naquip Al-Attas .Karena konsepsi
mengenai tuhan dalam agama amat krusial,khususnya dalam mengartikulsikan secara
benar bentuk penyerahan diri yang sesunnguhnya;dan konsepsi ini harus mampu
mendeskrisikan sifat tuhan yang benar yang hanya bisa diperoleh dari wahyu.Dia
adalah tuhan yang Esa Maha Hidup,Berdiri Sendiri Kekal dan Abadi.KeesaanNya
bersifat absolut.kesatuannya merupakan kesatuan dzat sifat dan aksi. Dia tidak
sama dengan penggerak pertama (first mover) dalam filsafat aristoteles.Penciptaan
dan ciptaanNya tidak bisa disamakan dengan metafisika emanasi menurut Platinos .
[1] Dr Anis malik Toha tren pluralisme agama hal 78
[2] Aki Rabbani
Gulpaigani, Huquqe Basyar, terjmh. Muhammad Musa, Menggugat Pluralisme Agama, 2004,hlm. 14,
dikutif dari Fisafat Agama, terjmh. Behram Rod. Hlm. 238
[4] Sebagaimana yang dikutip oleh Dr anais malik Toha
dalam tren pluralism agama hal 86
[5] Dr Anis MalikTohaTren Pluralisme Agama Hal 81
[6] Dr Anis Malik Toha,tren pluralism agama hal 78
[7] Hick, Jhon, Philosophy of religion hal
121,sebagaigaimana yang ditulis oleh Anis Malik Toha dalam tren pliralisme
agama hal89.
[8] Ibid hal 47
[9] An Interpretation of Religion: Human
Responses to the Transcendent, Religion Pluralism, Philosophy of Religion, A
Philosophy of Religions Pluralisme, Problems of Religion Pluralism,
dll.
[10].W.J.S.
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia; Bagian Pertama,
Huruf A s/d O, Cetakan keempat, (Balai
Pustaka, 1966), hlm.21.
[11] Jurnal Islamia, Thn 1 No. 3, September
–Nopember 2004, rubric Telaah Utama, Konsep Islam sebagai Din Kajian terhadap
Oemikiran Prof. Dr. SMN. Al-Attas, hlm.52
[12]Ibid, hlm.39
[13].Huston Smikth, The Religion of Man,
dalam "Agama-agama Manusia",oleh SaafroedinBahar, (Yayasan Obor Indonesia,
2004), hlm. 102. Ramakrishna berkata :"Tuihan telah menciptakan berbagai
agama untuk kepetingan berbagai pemeluk, waktu dan negeri. Semua ajaran hanya
merupakan berbagai jalan, tetapi suatui jalan sama sekali bukanlah sama dengan
Tuhan itu sendiri, sesungguhnya, seseorang akan mencapai Tuhan jika ia
mengikuti jalan mana pun juga, dengan pengabdian diri yang sepenuh-penuhnya.
Kita bisa memakan sepotong kue dengan lapisan gula, baik secara lurus atyau
miring. Rasanya akan tetap enak, dengan lapisan apa pun juga".
[14]Ibid,hlm 42
[15] Aki Rabbani Gulpaigani, Huquqe Basyar, terjmh.
Muhammad Musa, Menggugat Pluralismeagama,
2004,hlm. 14, dikutif dari Fisafat Agama, terjmh. Behram Rod. Hlm. 238
[18]. Louis Ma'luf, al-Munjid: fi al-Lughah,(al-Mathba'ah
al-Katsulikiyah, Beirut tth.) hlm. 231.
[19]. Moenawar Cholil, Definisi dan Sendi Agama, (Bulan
Bintang, Jakarta 1970), hlm. 13.(Peraturan, undang-undang, pembalasan,
perhitungan, hari kiamat dan agama itu sendiri)
[20].Toshihiko Izutzu, God and Man in the Koran:
Semantics of the Koranic Weltanschuung, diterjm. Agus Fahri Husein, dkk,
Relasi Tuhan dan Manusia; Pendekatan Semantik terhadap al-Qur'an,(Tiara
Wacana Yogya, 2003) hlm.247.
[21]. QS : 12 : 76
(ما كان ليأ خذ أخاه
في دين الملك إلا أن يشاء الله)
[22] Imam Ibnu Jarier al-Tahabry, Jami'ul Bayaan an
Ta'wiel ayil-Qur'an, (Daar al-Fikr,1425-1426 H/ 2005 M) hlm. 29-30.
Lihat, Imam Fakhr-ul-Razy, Al-Tafsier al-Kabier atauMafatieh-ul Ghaib,(Dar-ul-Kutub
al-Ilmiyah, 1421H/2000M), jilid IX, hlm. 145. Lihat jugadalam al-Ustadz
al-Hakiem al-Syeikh al-Thanthawy, Jawahir al-Mishry,
(Daar-ul-Kutub Ilmiyah, Libenon, 1425/2004), Jilid IV, hlm. 56.
[23]. QS; al-Nahl, 16 : 52
(و له ما في السموات و
الارض و له الدين واصبا أفغير الله تتقون)
[24].QS; Yunus, 10 : 104 dan baca surah CIV, ayat 1-6
(Al-Kafirun)
قل يأ يها الناس إن كنتم في شك من ديني فلآ أعبد
الذين تعبدون من دون الله و لكن أغبد الله الذي يتوفاكم , و أمرت أن أكون من
المؤمنين
(Hai manusia pluralis, jika kamu
masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, dieny (Islam), maka (ketahuilah) aku
tidak akan menyembah (a'budu) yang kamu sembah (ta'buduuna) selain ALLAH,
tetapi aku menyembah ( a'budu) ALLAH). Demikian gambaran islam para nabi,
seperti Nabi Ibrahim tidak mau menyembah apa yang disembah oleh ayahnya dan
kaumnya.
[26]. Prof. Dr. Muhammad Abdullah Darraz, Al-Din
Buhuuts Mumahhidah li Dirasaat al-Adyaan ,( Cairo: 1417 H/1952 M,
hlm.49-50. dikutif dalam, Tren Pluralisme Agama, Dr. Anis Malik Thaha, hlm.13,
pada catatan kaki.
[27].Al-Attas,
[29] Nicolson R.A (ed dan terj)The Matsnawi of
jalaluddin Rumi(lahore:IslamicBook service(1940)1989)Bab III,Baris 1254-1258
hal 71,sebagaimana yang telah ditulis oleh Dr Anis Malik Toha dalam bukunya
Tren Pluralisme agama hal86
[30] Dr Anjs Malik Toha, 224 Tren Pluralisme
Agama,hlm224
[31] Descourses of rumi,terjemahan bahasa inggris oleh
Artur J Arberry(Richmon Curzon press 1993)hlm 135 sebaimana yang dinukil oleh Dr Anis Malik
Toha dalam Tren Pluralisme agama hal245.
[32] Ibid hal 245
[33] Dr Anis MalikTohaTren Pluralisme Agama Hal 81
[34] Ibid hlm 81
[35].Hick, John, Op Cit., hlm. 81 " Copernicus
menyadari bahwa pusatnya adalah matahari dan bukan bumi, dan bahwa semua benda
langit, termasuk bumi kita sendiri,berputar mengelilinginya. Dan kita harus
menyadari bahwa alam kepercayaan lain berpusat pada Allah, dan bukan pada Agama
Kristen atau agama-agama lain. Ia adalah matahari, sumber asal cahaya dan
khidupan, yang semua agama merefleksikannya di dalam cara m,ereka yang
berbeda-beda.
[36] Hick, John, Ibid, hlm, 79 "Astronomi Ptolomeus
lama menyatakan bahwa bumi menjadi pusat dari system tata surya dan bahwa semua
benda langit lain berputar mengelilinginya Dengan analogi, doktrin "tidak
ada keselamatan di luar agama Kristen" terse but adalah secara teologis
bersifat Ptolomeus. Agama Kristen dilihat sebagai pusat dari alam semesta iman,
dan semua agama yang lain dianggap berputar mengelilinginga dinilai menurut
jarak mereka dari pusat tersebut."
[38] Ibid, hlm. 161
[39].Hick, Relegious Pluralism, hlm. 148 dan
dalam Problem of Religious Pluralism, hlm. 29
[40] Golongan-golongan besar seperti; Hinduisme, Buddhisme,
Konfusianisme, Taoisme.
[41] Misalnya; Marxisme, Maoisme, dan Humanisme.(Lihat, God
Has Many Name, hlm, 13
[42] Kant sendiri tidak memandang perlu upaya ini dilakukan
karena menurutnya di luas batas kemampuan akal manusia. Lihat Aslan ,Adnan,
hlm. 2-13, Lihat juga, Malik Thaha, Anis Dr, Tren Pluralisme Agama,
hlm. 84, Lihat juga, Hick, John, God Has Many Name, hlm, 57.
[43]Hick, John, God Has Many Name, hlm.40
[44] Ibid, hlm.71
[45] Di sinagog Yahudi Allah dipuja sebagai pencipta langit
dan bumi, dan sebagai Tuhan Abraham dan Isak serta Yakub, yang membimbing
anak-anak Israel keluiar dari Mesir menuju Tanah yang dijanji kan Do'a orang
Yahudi yang khas:" Dengan cinta agung Engkau telah mencintai kami, O Tuhan
Allah kami,…dan menegakkan dengan segenap cinta dari firman-firman-Mu"(Dari
Pelayanan Pagi hari kerja dalam Service of the Heart: Weekday Sabbath and
Festival Services and Prayers for Home and Synagogue, hlm, 40f:London: Union of
Liberal and Progressive Synagoguei, 1967) Di Masjid muslim, Allah dipuja sebagai
pencipta langit dan bumi, dan sebagai Tuhan yang berdaulat atas alam semesta,
maka esa, suci dan pemurah. Do'a Muslim yang khas:" Segala puji bagi
Allah, Tuhan segala ci[ptaan, sumber dari semua mata pencaharian,….(Kenneth
Cragg.,ed., Alive to God Muslim and Christian Pra yer, hlm. 65: London: Oxford
University Press, 19760). Di Gurdwara Sikh Allah dipuja sebagai pencipta langit
dan bumki, Penguasa waktu yang sangat ramah dan Tuhan keabadian,….Doa kaum Sikh
:" Hanya ada satu Tuhan/ Ia adalah segala/Ia adalah Pencipta segalanya dan
Ia meliputi semua…. .Ia adalah Sang Penerang/Dan dapat dinyatakan oleh rahmat
diri-Nya sendiri….(Japji) Di kuil-kuil Hindu Teistek, Allah dipuja sebagai
Tuhan terakhir dari segalanya,m jiwa Tuhan tak terbatas yang dikenal dalam banyak
aspek dan sebutan. Disini ada himne yang khas :"O selamatkan saya, selamatkan saya, Yang Maha
Perkasa/Selamatkan saya dan bebeskan saya/ O biarkan cinta yang mengisi dada
saya/ Lekat dengan-Mu dengan penuh cinta ….. Saya akan menari di depan Tuhanku.
(AC. Bouquet, ed., Sacred Books of the World,hlm.246; Pelican Books, 1945)
Lihat, God Has Many Name, hlm,71-74.
[46]Lihat, Malik Thaha, Anis Dr, Tren Pluralisme
Agama, hlm.84
[47]Mengenai apa yang dimaksud personal dan impersonal
secara detail, lihat, Hick, John, An Interpretation of Religion, fasal 15 dan
16, hlm, 522-296; dan juga …
67. Hick, John,"The Real and its Personae and Impersonae,'
dalam Tessier, Linda J, (ed), Comcepts of the Ultimate: Philosophical
Perspective on the Nature of the Divine (London; The Macmillan Press, 1989)
hlm.hlm 150.
[49] Hick, John, hlm 57 Konsep "Tuhan Punya Banyak
Nama" ini disampaikan pada kuliah tahunan yang ke-27, mengenang Claude
Goldsmid Montefiore di Sinagog, di depan umat Yahudi. Hick mengataknan
:"Dalam mengasumsikan realitas obyek peribadatan,m eidtasi, dan pengalaman
keagamaan, bagaimana kita menyebut realitas tersebut ? Kemudian Hick
mengusulkan untuk menggunakan istilah "the Enternal One" (Satu Yang
Abadi). Lanjutnya, Istilah ini secara bebas menggambarkan dua sisi yang
berbeda, pada satu sisi menyatakan Satu yang tak dapat dilukiskan dari tradisi
mistis, apakah itu Satu nya Plotinus atau Satu tanpa yan g kedua (One without a
second) dari Upanishad, dan pada sisi lain Satu yang Maha Kudus dari pengalaman
Teistek, apakah Satu yang Maha Kudus dari Israel atau model puja Teistek India.
[50]Sukidi, Titik Temu Agama-agama, Polemik Anand Vs
Pengkritiknya,
http://satunet.com/artikel/isi/00/10/07/27527.html.
[51]. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Percikan Cahaya
Ilahi Petuah-petuah, (Pustaka Hidayah, 2005),hlm. 76
[52]Imam Al-Syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal,
telah ditakhrij oleh Muhammad bin Fathullah Badran, (Maktabah al-Anjaluw al-Mishriyah, 1392) hlm.
51.Lihat dalam Dr. 'Awwad bin Abdullah al-Mu'tiq, Al-Mu'tazilah wa Ushuluhum
al-Khamsah wa Mauqifu Ahl al-Sunnah minha,(Maktabah Al-Rastd, al-Riyadh,1414
H), hlm.84.
[53] Lihat dalam, Hasyimsyah Nasution, MA, Dr, Filsafat
Islam, (Gaya Media Pratama,Jakarta,2005) dan H. A. Mustofa, Filsafat
Islam, (Pustaka Setia, 2007)
[54].
[55].Apakah kamu hen dak berbantah denganku(Nabi Hud)
'tentang' nama-nama(berhala) yang kamu dan nenek moyangmu buat sendiri, padahal
Allah tidak menurunkan keterangan untuk itu ?
[56]. Apakah kamu sembah selain Dia (Allah), hanyalah
nama-nama yang kamu buat dan nenek moyang mu, padahal Allah tidak menurunkan
suatu keterangan apapun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah milik
Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selaim Dia. Itulah
agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
[57].Itu tidak lain hanyalah nama-nama Tuhan yang kamu dan
nenek moyangmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa
pun untuk(menyembah)nya. Mereka hanya mengukiti duaan, dan apa yang diingin
oleh keinginannya. Padahal sungguhnya, telah dfatang petunjuk dari Tuhan
mereka.i
[58]. Lihat, Tafsir al-Maraghy, Jilid IX,
hlm. 254.
[59].QS; 31 :30
[60].Ibid. hlm. 174-175.
[61] Ibid. hlm.vi
[62] Fathul Umam, Surah-menyurat Maryam
Jamilah-Maududi, diterj dari buku berbahasa Inggris, Corrspondense
between Maulana Maududi and Maryam Jamilah,(Muhammad Yusuf Khan, Lahore,
1978), hlm.vii.
[64].Jurnal Islamia, Thn 1. No 3, hlm.52
[65].Ahmad Bahjat; Mengenal Allah, Risalah Baru
Tauhid (Pustaka Hidaya, 2006),hlm.23,
[66].QS; 7:172
[67] Baca Surat-menyurat Maryam Jamilah(Margaret
Marcus) dengan Maulana Abul 'Ala Maududi.

